Catatan Proyek Kurun Niaga #4
How is the story told after it’s over?

Penulis
Akbar Yumni
Amelia Putri
Eka Dalanta
Yeni Wahyuni
Zekalver Muharam

Editor
Albert Rahman Putra

Proofreader
Fauzia Laili

Layout dan Design
Volta Ahmad Jonneva

Foto dan Gambar:
Koleksi Komunitas Gubuak Kopi


Diterbitkan oleh
Komunitas Gubuak Kopi
Solok, November 2024


Buku ini merupakan catatan pasca-lokakarya Kurun Niaga #4 yang diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Jendral Kebudayaan Kemdikbudristek, melalui program strategis Fase Rawat – Pekan Kebudayaan Nasional 2024

Mampir ke Halaman Proyek: Kurun Niaga #4


Pengantar Editorial Buku Kurun Niaga #4
How is the story told after it’s over?

Albert Rahman Putra

Kurun Niaga adalah studi tentang sejarah pertanian dan perniagaan di Solok, Sumatera Barat. Platform ini diinisiasi oleh Komunitas Gubuak Kopi pada tahun 2019, dengan melibatkan partisipan dari beragam disiplin ilmu untuk mengkritisi arsip-arsip dan narasi yang dikelola oleh institusi-institusi besar, seperti pemerintah dan kolonial. Kurun Niaga mengembangkan ide-ide dekolonialisasi, serta perebutan/penciptaan narasi yang mengedepankan perspektif warga

Kurun Niaga dalam Agenda Pekan Kebudayaan Nasional

Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2024 sebagai salah satu Rencana Aksi Pemajuan Kebudayaan berupaya menghadirkan paradigma baru dalam memaknai kebudayaan yang dibingkai dalam filosofi “lumbung”. Paradigma ini menekankan metode pemajuan kebudayaan dapat diwujudkan melalui konektivitas, jaringan antar pelaku, semangat berbagi non-moneter, kolaborasi bukan kompetisi, serta inklusi komunitas. Metode ini diharapkan dapat menciptakan ekologi budaya yang mendukung paradigma pemajuan kebudayaan, memperkuat unsur-unsur non-manusia dalam kebudayaan, serta mendorong regenerasi bumi dan membunuh kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam. PKN menjadi simbol dari usaha kolektif dalam merawat bumi dan kebudayaan, dengan menginspirasi perubahan cara hidup menuju praktik yang lebih berkelanjutan dan berpihak pada kearifan lokal.

Dalam merealisasikan paradigma Kebudayaan di atas, bingkaian “lumbung” membagi PKN menjadi 3 fase, yakni fase rawat, fase panen, dan fase bagi. Pada tahun 2024 ini, PKN akan merealisasikan Fase Rawat, yang diekstraksi bersama belasan komunitas yang terdiri dari belasan “hub” yang tersebar di berbagai pulau. Hub tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan menjadi menjangkau kolektivitas dan jaringan antar-pelaku yang lebih luas lagi. Dalam hal ini, Komunitas Gubuak Kopi yang dipilih sebagai bagian dari Hub Sumatera, untuk mendukung upaya dan cita-cita paradigma baru tersebut. Fase Rawat ini, sejalan dengan pengembangan Proyek Kurun Niaga #4 sebagai upaya menjangkau dan membangun jejaring kelompok-kelompok budaya yang lebih luas lagi di Sumatera, khususnya dalam program kerja produksi narasi berbasis kegiatan pengarsipan wilayah, dan pengembangan modulnya sebagai salah satu pilihan model pendidikan kontekstual .

Kurun Niaga: Pendidikan Kontekstual Berbasis Arsip
Belakangan di Sumatera kita melihat banyak praktek pengarsipan yang diinisiasi oleh komunitas, pemerintah, dan institusi pendidikan lainnya. Inisiatif desentralisasi data dan dekolonialisasi narasi ini menjadi aksi menarik dalam menyeimbangkan dan/atau merebut narasi besar sejarah yang diproduksi secara sentral oleh institusi besar.

Proyek ini bertujuan memetakan model-model yang dilakukan pengarsipan yang diinisiasi oleh sejumlah komunitas pelaku budaya di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Riau. Sejumlah peserta dari wilayah tersebut diundang untuk berpartisipasi dalam lokakarya Kurun Niaga #4 yang akan diselenggarakan secara intens di Solok. Para partisipan diminta saling berbagi metode kerja, mengkritisinya, dan mengembangkannya sebagai salah satu pilihan dalam modul pendidikan kontekstual – dengan tetap sadar akan perkembangan situasi sosial, ekonomi, dan politik dulu dan hari ini.

Lokakarya terdiri dari rangkaian kelas/diskusi terkait desentralisasi ide-ide, dan paradigma pengembangan mengenai arsip tidak terbatas pada dokumen, tetapi juga laku, gestur, arsitektur, bunyi, dan lainnya. Serta bereksperimentasi bagaimana arsip dapat bekerja dalam merespon persoalan kawasan hari ini dengan pendekatan seni-budaya. Para partisipan difasilitasi untuk membuka dan menyusun kerangka kerja bersama (jejaring) antar tetangga wilayah, Sumatera. Hasil lokakarya akan dipresentasikan dalam bentuk pameran “open-lab” di Solok bersama pameran Kurun Niaga #4. Selain itu, catatan proses dan pemikiran terkait kegiatan ini akan didokumentasikan dan didistribusikan dalam bentuk buku digital.

Proses Simpul Sumatera

Kegiatan ini diawali dengan kegiatan pemetaan praktek pengarsipan dan pendidikan seni yang diinisiasi oleh komunitas/kolektif. Pemetaan ini meliputi wilayah budaya dan administratif: Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau. Pemetaan ini dilaksanakan melalui metode daring dan komunikasi melalui pengembangan jejering, dengan kata kunci: menjangkau jaringan potensial yang tidak hanya tersebar di kota-kota besar. Setelah mengumpulkan dan 20 nama komunitas, tim pemetaan melakukan komunitas tersebut, dan menyusun pertemuan secara daring untuk melakukan saling mengenal lebih dalam praktik masing-masing komunitas.

Pertemuan terkait pemetaan mengerucut pada 14 komunitas untuk berdialog satu per-satu bersama tim riset Komunitas Gubuak Kopi, mereka antara lain: Komunitas Titik Abdi (Kabupaten Langkat, Sumatera Utara), Komunitas Solu (Kabupaten Balige, Sumatera Utara), Forum RT05 (Kota Payakumbuh, Sumatera Barat), Gajah Maharam Photography (Kota Solok, Sumatera Barat), Manual Kampar (Kabupaten Kampar, Riau), Sokong Publisher (Sleman Yogyakarta), Komunitas Ngobrol Buku (Kota Medan, Sumatera Utara), Non Blok Ekosistem (Kota Pekanbaru, Riau), Pondok Belantara (Kabupaten Kampar, Riau), Sasude (Deli, Sumatera Utara), Suku Seni (Kota Pekanbaru, Riau), Teater Balai (Bukittinggi, Sumatera Barat), Tembilahan Film Festival (Tembilahan, Riau), dan Paninjauan Saiyo (Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Pemetaan ini berupaya menjawab sejauh mana praktek pengarsipan yang dikelola komunitas. Bagaimana komunitas memahami praktik pengarsipan? Bagaimana arsip-arsip dikelola? Apa yang dilakukan setelah pengarsipan dan pendokumentasian? Bagaimana ia berkontribusi pada pemajuan kebudayaan di wilayahnya? Bagaimana kemungkinan pengarsipan dikembangkan sebagai metode pendidikan kontekstual atau pendidikan muatan lokal? Bagaimana pengembangan arsip sebagai metode merespon persoalan lokal atau kewilayahan?

Lokakarya Sebagai Metode Simpul

Berpijak pada hasil pemetaan, Komunitas Gubuak Kopi mengundang 12 peserta untuk dapat terlibat dalam kegiatan lokakarya. Pemilihan ini dilakukan atas pertimbangan: persebaran geografis yang tidak terpusat di kota besar, ketertarikan komunitas, keterbukaan komunitas untuk berkolaborasi, dan kesediaan komunitas untuk terlibat. Lokakarya ini merupakan pengembangan praktik pengarsipan sebagai metode pendidikan kontekstual dan wacana muatan lokal. 

Lokakarya terdiri dari rangkaian kelas mengenai praktik pengembangan arsip dalam praktik seni, relevansi pendayagunaan arsip dengan konteks kawasan dan pembangunan, serta perluasan definisi arsip konvensional, tetapi juga laku, gestur, bunyi, dan lainnya.

Pada hari pertama Lokakarya, Akbar Yumni seorang peneliti independen memulai obrolan tentang arsip. Akbar menjabarkan sejumlah terminologi yang dekat dengat arsip untuk diurai bersama selama 10 hari kedepan. Terminologi tersebut meliputi arsip, repertoar, sejarah, gramatologi, temporal, material, reenactment, sejarah negara dan sejarah publik. Akbar mengajak partisipan menyusun gagasan dan pandangan terkait pengarsipan dalam konteks sejarah publik. Sekaligus mengajak partisipan mengkritisi apa itu arsip dalam konteks dekolonialisasi. Apa saja yang kemudian bisa disebut arsip warga, dan apa itu praktik pengarsipan dalam agenda merebut/produksi narasi. 

Di hari kedua, fasiliator meminta masing-masing partisipan mempresentasikan kegiatan yang sudah dilakukan di komunitasnya. Hari berikutnya, kelas dilanjukan oleh Rifandi, seorang kurator, peneliti, dan arsitek dari Gudskul Ekosistem. Pertemuan dimulai dengan menonton film dokumenter tentang Bioskop Sovia yang dialih fungsikan menjadi wahana rumah hantu yang berjudul “Short Tour for Groy” karya Albert.  Bioskop Savoy atau Sovia sekarang tetap digunakan, cuma dengan pengalaman sinema yang berbeda.  Ada juga beberapa film dokumenter pada proyek seni simpang susun arsip kolonial, dengan latar belakang daerah dan gaya presentasi film yang unik dan merekam masa kolonial.

Selanjutnya Rifandi menjelaskan bahwa memandang arsip bisa dibagi dalam bentuk alam ingatan dan situs ingatan. Alam ingatan ialah suatu yang didapat dengan pengalaman, penanda, alam sekitar, cerita, lagu, dll. Memiliki sifat yang personal, particular, dinamis, mendalam, subjektif.  Sementara situs ingatan bisa didapat dari dokumen, foto, film, monument, arsitektur, dll. Memiliki sifat yang universal, general, statis, dangkal, dan objektif.

Partisipan kemudian diminta menuliskan dan menggambarkan alam ingatan tentang ruang yang paling berkesan. Rifandi memberikan waktu sekitar 30 menit bagi para partisipan untuk menggambarkan dan menuliskannya. Masing-masing partisipan menjabarkan alam ingatannya, ada yang menyampaikan pengalaman masa kecil, puisi tentang kota, kenangan tentang bangunan, kuliner, monument, dll.

Pada sesi sore, kelas dilanjutkan oleh Krista Jantowski seorang seniman dari Belanda yang saat ini sedang melakukan riset tentang pabrik tambang. Krista berfokus pada perspektif memori kolektif di Heerlen Kolenmijn Oranje Nassau, sebuah warisan pabrik tambang Batubara yang terdapat di Belanda dan hubungannya dengan tambang di Kalimantan juga Ombilin di Sumbar tahun 1892 – 1996. Di Heerlen ada Museum Eirkolen adalah salah satu cara memperkenalkan pertambangan untuk anak-anak. Perspektif Krista adalah tentang bagaimana seharusnya cerita itu dimulai, karena pada outputnya justru kurang banyak disinggung antara keterhubungan Indonesia dengan tambang itu sendiri. Dimana tambang milik Belanda pertama kali dibuka, itulah perspektif yang jarang sekali dibuka ke publik.

Hari selanjutnya, Kelas bersama Rifandi dilanjutkan via daring, zoom meeting. Para partisipan diminta melakukan presentasi terhadap situs ingatan yang sudah ditempel menjadi kolase di dinding ruang utama Rumah Tamera. Pada dinding sebelah kiri, terdapat alam ingatan berupa narasi dan sketsa tentang ruang yang paling berkesan. Di sebelah kanan, terdapat kolase berupa foto, dokumen, dan situs masa lalu yang ditempel oleh partisipan.

Selain kelas, rangkaian lokakarya ini juga terdapat kegiatan kunjungan ke beberapa museum yang terletak di kawasan kota tambang, Sawahlunto. Sawahlunto memiliki cerita tentang kelamnya masa pendudukan kolonial Belanda. juga sekaligus menjadi titik masa kejayaan transportasi di Sumatera Barat. Museum yang pertama kali kami datangi yaitu Stasiun Kereta Api Sawahlunto. Sistem kereta api merupakan sebuah faktor penting dalam pergerakan melawan penjajahan. Saat ini selain menjadi museum, stasiun ini juga masih beroperasi. Namun hanya untuk keperluan pariwisata. Ialah Mak Itam lokomotif termasyur yang masih aktif sampai saat ini. Untuk menaikinya perlu merogoh kocek yang dalam, karena untuk menjalankan butuh 1 ton batubara. Selanjutnya ke Museum Gudang Ransum. Ialah sebuah tempat yang difungsikan sebagai dapur umum pada masa kerja paksa. Di museum ini kita akan melihat betapa peralatan dan perlengkapan dapurnya dibuat dalam bentuk raksasa. Konon untuk menghidupkan api tungku raksasa, digunakan energy dari pembakaran batubara. dan terakhir ke museum Lubang Tambang Mbah Suro.

Di hari ke-6 lokakarya Kurun Niaga #4 ini kita kedatangan narasumber dari Bukittinggi. Ialah  Maiza Elvira seorang pengajar Ilmu Sejarah di UIN Bukittinggi dan alumni peneliti di Departemen Sejarah UGM. Baru-baru ini Elfira menyelesaikan studi mengenai kebencanaan, wabah, dan kecurangan-kecurangan politik yang terjadi di masa lampau. Elfira membaca ulang arsip sebagai upaya penelusuran pengetahuan dan menggugat narasi yang dibentuk oleh kolonial. Pada sesi ini Elvira akan berbagi pengalaman penelitiannya mengenai pendayagunaan arsip dan sikap kritis terhadap arsip itu sendiri.

Selanjutnya lokakarya ini diperkaya dengan sesi praktik bersama Prasetya Yuda dari Sokong Publisher. Pras membawa contoh-contoh buku fotografi yang diterbitkan oleh Sokong. Ada yang berupa dummy, zine, dan buku yang dipasarkan. Buku-buku fotografi ini seolah menabrak stereotip buku pada umumnya, karena buku yang diciptakan tidak seperti biasa. Pras juga membawa contoh ukuran-ukuran buku, mulai dari kertas ukuran plano, A2, A3, A4, juga A5. Kebanyakan buku-buku yang beredar adalah ukuran A5.  Sementara buku-buku yang diterbitkan Sokong bisa hanya berupa lembaran-lembaran A4 yang dilipat sesuai praktik artistiknya.

Partisipan diajak memikirkan proyek artistik berupa buku manual seperti apa yang akan mereka buat. Untuk membuat sebuah dummy buku manual ini, partisipan bisa mengambil ide dari situs ingatan dan kolase yang telah dikerjakan sebelumnya. 

Presentasi Publik: Peserta mempresentasikan hasil lokakarya dan kolaborasinya dalam bentuk pameran open lab dan diskusi publik di Solok. Presentasi ini juga menghadirkan dialog antara kolektif dalam mengembangkan jaringan kerja Sumatera. Open lab atau pameran sederhana ini kedatangan kurator dari Pekan Kebudayaan Nasional, yaitu Handoko Hendroyono dan Nyak Ina Raseuki (Ubiet). Ada Pak Handoko yang memberikan sambutan bahwasannya penting sekali melakukan penyadaran literasi dari proses pengarsipan. Proses itu membuat kita lebih mengenal diri dan lingkungan. Pak Handoko mengaku hampir setiap hari melakukan eksperimen pengarsipan. Dalam ‘fase rawat’ PKN ini mudah-mudahan menjadi gayung bersambut, berharap antusiasme ini dipelihara karena prosesnya masih panjang. Potensi kearsipan ini akan memperoleh perhatian yang lebih serius. Bukanlah sebuah hambatan untuk menggali kearsipan dari berbagai daerah. Ditambahkan juga oleh Mbak Ubiet bahwa Gubuak Kopi adalah salah satu dari sub-hub sumatera, yang prosesnya melibatkan pengarsipan.

Buku Pasca-Lokakarya: setelah lokakarya selesai, catatan proses serta pemikiran terkait pendayagunaan arsip dalam konteks produksi pengetahuan muatan lokal dan ide-ide dekolonialisasi, kami dokumentasikan dalam bentuk buku ini. Berisi 5 artikel dan catatan visual, yang memungkinkan publik untuk mengadopsi ataupun mengembangkan program ini.