Proyek ini merupakan pengembangan dari Platform Daur Subur, sebuah studi mengenai kebudayaan yang berkembang di masyarakat pertanian Sumatera Barat melalui pendekatan seni-budaya. Platform ini diinisiasi oleh Komunitas Gubuak Kopi pada tahun 2017 dan terus berkembang hingga sekarang dan melahirkan 10 serial proyek seni Daur Subur dengan tema-tema yang berkesinambungan. Proyek ini melibatkan sejumlah kolaborator dari beragam perwakilan komunitas dan warga inisiator, untuk membaca ulang kebudayaan pertanian, melakukan pendokumentasian, mengaktivasi ruang, serta reproduksi pengetahuan kebudayaan pertanian melalui produksi artistik.
Kolaborator utama dari kegiatan adalah mereka yang memiliki ketertarikan dalam kerja-kerja kolaboratif, pengembangan seni kontemporer yang mengedepankan ide-ide “estika bertetangga”, sejalan dengan gagasa estetika relasional yang dikemukakan oleh Nicolas Bourriaud, bahwa seni hendaklah membuka hubungan sosial baru yang mendorong kenyataan sosial baru, mendorong pembatalan distingsi antara seni dan seniman, antara karya seni dan bukan karya seni.
Praktik artisik Komunitas Gubuak Kopi, sering kali menempatkan posisi “seniman sebagai fasilitator” ataupun sebagai organisator. Dalam hal ini bersama para kolaborator berupaya mendorong bagaimana seni dapat bekerja merespon persoalan-persoalan di sekitar. Kegiatan ini mendorong para aktor atau warga inisiator untuk melebur pada entitas kolektif, menjadi bagian dari warga dan mengambil peran dalam pembangunan dengan metode seni-budaya, yang lebih speku;atif dan present — hadir di tengah-tengah masyarakat, menjadi lebih terjangkau, lokal, dan horizontal. Praktik ini tidak lagi menekankan produksi seni sebagai objek dan sifat representatif, melainkan subjektivitas kolektif dalam upaya-upaya memperbaiki ruang hidup.
Secara umum proyek ini terdiri dari rangkaian kegiatan : pertama, FGD Pengembangan Platform Daur Subur dalam Penguatan Ekosistem Kebudayaan pada 24-26 Februari 2025. Dalam hal ini Komunitas Gubuak Kopi dan jaringan komunitas yang memiliki ketertarikan dalam penguatan ekosistem kebudayaan masyarakat pertanian, melaksanaan diskusi terpumpun dengan melibatkan para pemangku kebijakan, khususnya pemerintah daerah dalam bidang kebudayaan, perencanaan pembangunan, dalam sejumlah balai penelitian pertanian. Diskusi ini berupaya melihat bagaimana kegiatan seni-budaya mampu berkontribusi pada pemajuan pembangunan yang berakar pada kebudayaan pertanian. FGD ini juga mendorong keterlibatan pemangku kebijakan dalam mengisi program-program yang tengah disusun, serta mendorong komitmen bersama pada tahun-tahun berikutnya dalam bentuk “agenda kebudayaan”.
Kedua, Lokakarya Daur Subur pada 9-15 Juni-Juli 2025. Lokakarya ini menghadirkan kurasi dialog kritis bersama para aktor kebudayaan lokal untuk melihat persoalan di sekitarnya, khususnya dalam konteks kebudayaan pertanian. Para partisipan juga didorong untuk memperkaya kemampuan artistik seperti produksi seni, menulis, dan penelitian sederhana melalui sejumlah kelas. Para partisipan berkolaborasi dengan para tamu Residensi Daur Subur 2025 pada 15 Juni – 15 Juli, melakukan pemetaan persoalan serta potensi di wilayahnya, secara kolaboratif, melibatkan tetangga atau warga lainnya, dan meresponnya secara artistik. Catatan dan pemikiran para partisipan lokakarya dan residensi dipresentasikan dalam bentuk Pameran Presentasi Publik Daur Subur XI, dan menjadi wacana bersama untuk dikritisi melalui kegiatan Simposium Daur Subur dalam rangkaian Tenggara Festival 2025 pada 1-10 Agustus 2025.
Di samping itu, proyek ini diperkaya dengan kegiatan Diskusi Bulanan: Daursubur Akhir Bulan. Kegiatan ini merupakan ajang tetangga dan komunitas berkumpul, dan mempertajam artikulasi posisi kritis warga dan memperkuat imajinasi kolektif, Solok sebagai hub kebudayaan pertanian. Forum diskusi ini juga memungkinkan warga untuk memperkenalkan produk, pratik, dan proyeknya yang tengah dijalankan.
- All
- Daur Subur XI
- Daursubur Akhir Bulan
- FGD Daur Subur 2025
- Simposium Daur Subur
- Tenggara Festival 2025
- Vlog Kampuang
Pohon-pohon dan Sepaket Rendang Kasih Sayang
Dari Halaman ke Dapur Warna #2
Dari Halaman ke Dapur Warna #1
Kisah dari Kebun Belakang Rumah
Bertandang ke Huma Inovasi
Kedaulatan dan Keberagaman Pangan
Berbenah Menuju Pertanian Sehat
Bertandang ke Galanggang Raya Farm
Melahirkan Nilai pada Tubuh yang Baru
Nanti Kita Bertemu di Jalan yang Sama
Asa Pewaris Kebudayaan Pertanian Solok
Metode Ekonomi Berbasis Kasih Sayang
Imajinasi Lahan Berkelanjutan bersama Sendalu
Semua akan Kembali pada Falsafah itu
Berkumpul di Bukik Gompong
Kita Upayakan Pertanian Sehat Itu
Pertanian Berkesadaran bersama Satria Arjuna
Cerita tentang “Kota Sepenghidupan” di Jatiwangi
Cerita Rencana Pembangunan Kota Solok di FGD Daur Subur








