Imajinasi Lahan Berkelanjutan bersama Sendalu

Rabu, 11 Juni 2025 lalu, kami kedatangan kawan, Gibran Tragari atau yang biasa disapa Mas Gibong. Dia adalah inisiator Sendalu Permaculture, sebuah ruang belajar praktik pertanian permakultur yang berbasis di Kota Depok. Ia memang sengaja hadir ke Solok untuk mengisi salah satu materi dalam rangkaian Lokakarya Daur Subur XI.

Gibran datang satu hari lebih awal dari jadwal dia mengisi materi. Ini perjalanan pertamanya ke Solok. Siang itu setelah makan siang kami berkeliling Solok sejenak. Siang itu kami bercerita tentang kondisi Solok belakangan, khususnya tentang banyaknya kebakaran lahan yang terjadi. Sejak Maret sampai Juni Solok mengalami kemarau panjang. Paling parah dari sebelumnya. Banyak kebun-kebun dan hutan yang terbakar, baik itu karena panas ekstrim maupun dipantik api. Salah satu kebun yang terbakar itu adalah kebun Komunitas Gubuak Kopi. Sebuah lahan perbukitan bekas kebun karet yang kini dikelola dengan prinsip “parak Pusako Tinggi. Yakni, cara vernakular warga dalam mengelola hutan untuk berkebun. Di kebun ini kami ditanami berbagai tanaman, kopi, durian, alpukat, cabe, terong, manggis, dan lainnya. Kopi menjadi tanaman dominan. Tapi itu 80% nya habis terbakar pada akhir Mei lalu. Kami tidak tahu pasti penyebab kebakaran itu. Sore hari ketika hendak menyiram tanaman, teman-teman mendapati setengahnya sudah terbakar. 

Kebakaran ini terjadi di banyak lahan. Satu hari kami bisa mendengar serine damkar sampai 3 kali. Khususnya yang lewat dekat Markas Komunitas Gubuak Kopi di daerah Laiang dan Transad. Termasuk ketika kebun Komunitas Gubuak Kopi terbakar, kami sempat menghubungi damkar, tapi semua armadanya saat itu sedang bekerja di banyak tempat. Sehingga harus kami upayakan sendiri. Beberapa kebun sebenarnya juga sengaja dibakar oleh warga. Tapi seringkali api tidak terkontrol. Melebar ke lahan sebelah, atau arang ilalang itu terbang dan menyalakan api di kebun-kebun lain. Dari fenomena itu saya setuju dengan pendapat Gibran. Kita jarang sekali membicarakan keberlangsungan (sustainability) sumber air.

Kami mampir juga ke Galanggang Raya Farm. Kebun yang dikelola salah seorang peserta lokakarya, yakni Hendra Saputra. Kebun ini menerapkan pertanian terintegrasi, fokus utama mereka adalah peternakan kambing susu dan sapi. Selain itu lahan-lahan juga mereka manfaatkan untuk pertanian hortikultura seperti cabe, terong. Ada juga beragam jenis pisang dan rumput ternak dengan beragam jenis. Kebun ini sebenarnya bersebelahan dengan sungai kecil, yang memang cukup kering kala itu.

Dari keliling singkat kami, Gibran melihat selain sumber mata air, persoalannya selanjutnya bagaimana menjaga air bisa bertahan lebih lama di lahan. Ia bisa dicapai dengan mempertahankan dan memperbanyak mata air, serta membuat desain aliran yang berkelok, agar ia tidak langsung ke pintu keluar.

Ia menyebut ada 5 prinsip mengelola air: pelankan, sebarkan, resapkan, simpan, dan alirkan dengan aman. Saya kira ini yang menjadi persoalan utama di Solok sekarang. Awal tahun lalu Solok mengalami musim hujan dan pucak banjir terjadi pada Bulan Maret. Sejak lebih dari 20 tahun terakhir warga sudah menerimanya sebagai bencana tahunan, dan berdamai dengan itu. Banjir yang terjadi di Solok hanya direspon dengan membuat dinding bibir sungai menjadi beton dan mengeruk dasar sungai agar lebih dalam hingga ke muara sungai: Danau Singkarak. Debit air yang besar hilang mengalir lebih cepat, tapi menyusul bencana di wilayah setelahnya. Problem ini saya kira sudah lebih dahulu terjadi di kota-kota besar, yang menerapkan logika pembangunan urban. Perencanaan pembangunan seringkali mengabaikan prinsip keselamatan ruang hidup masa mendatang itu.

*** 

Gibran membuka materinya dengan memperkenalkan prinsip-prinsip permakultur. Permakultur sendiri adalah gagasan yang diperkenalkan oleh Bill Mollison dan David Holmgren. Pada dasarnya, ia adalah sistem desain ekologis yang meniru pola ekosistem alami untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan produktif, mengintegrasikan pertanian, perancangan lanskap, dan pengelolaan sumber daya dengan prinsip dasar peduli keselamatan alam, termasuk manusianya. Perancangan lanskap ini bertujuan menghasilkan sistem yang mandiri, minim limbah, dan harmoni sebagai sebuah ekosistem. Pada dasarnya pendekatan holistik ini bisa diterapkan di berbagai skala lahan, baik itu pekarangan rumah, perkebunan, desa, dan kawasan lebih luas untuk menciptakan ketahanan pangan dan keseimbangan ekologis yang bekerja sama dengan alam, bukan melawannya.  Tentu saja prinsip ini mengadopsi banyak praktik-praktik yang pernah berkembang di berbagai budaya pertanian. Tidak sedikit pula praktik pertanian lokal, pada dasarnya sudah menjalankan model ini dengan nama dan detail yang berbeda. 

Topik ini sebenarnya berkaitan dengan sesi sebelumnya bersama Buya Khairani. Buya secara spesifik menjabarkan prinsip-prinsip pengelolaan halaman yang berkembang secara vernakular pada masyarakat Minangkabau. Sebagian besar diantaranya pengetahuan itu terekam pada syair dan petuah. Terdapat sejumlah sifat-sifat tanaman yang kemudian mempengaruhi desain halaman.

Topik ini kemudian diperkaya oleh permakultur dan pengalaman Gibran dalam mengelola sejumlah proyek desain lanskap bersama Sendalu Permakultur. Setidaknya ada 12 prinsip permakultur yang menarik untuk dielaborasi: 

  1. Observasi dan Interaksi: penting untuk kita hadir dan mengalami lokasi tersebut secara sadar. Memahami pola alam sebelum merancang sistem, baik itu alur gerakan cahaya matahari, angin, menginjak tanahnya secara langsung, dan mencermati lingkungan sekitarnya. Entah itu terdapat pabrik, perumahan, dan seterusnya.
  2. Menangkap dan Menyimpan Energi: Memanfaatkan sumber daya alam (matahari, air, angin) secara efisien.
  3. Memperoleh Hasil (Obtain a Yield): Sistem harus menghasilkan sesuatu yang berguna untuk bertahan.
  4. Terapkan Pengaturan Diri dan Umpan Balik: Mengoreksi perilaku yang tidak berkelanjutan.
  5. Gunakan dan Hargai Sumber Daya Terbarukan: Mengurangi ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan.
  6. Hasilkan Tanpa Limbah (Produce No Waste): Sisa satu proses menjadi sumber daya proses lain.
  7. Desain dari Pola ke Detail: Mengamati pola alam sebagai dasar perancangan.
  8. Integrasikan daripada Memisahkan: Menempatkan elemen secara terhubung agar saling mendukung.
  9. Gunakan Solusi Kecil dan Lambat: Sistem kecil lebih mudah dirawat dan lebih berkelanjutan.
  10. Gunakan dan Hargai Keanekaragaman: Keanekaragaman mengurangi kerentanan terhadap ancaman.
  11. Gunakan Tepian (Edge) dan Hargai yang Marjinal: Pertemuan dua sistem (contoh: darat & air) seringkali paling produktif.
  12. Kreatif Menggunakan dan Merespons Perubahan: Beradaptasi dengan perubahan lingkungan. 

*** 

Gibran meminta para peserta lokakarya untuk berandai-andai jika mereka memiliki lahan, dengan luas tertentu. Lahan seperti apa yang mereka inginkan, apa peristiwa yang akan terjadi di sana, apa yang akan didapat peserta dari sana. Teman-teman fasilitator membagikan kertas keinginan itu. Para partisipan mulai mendeskripsikannya, dan meceritakannya pada semua. Setelah itu, para peserta diajak untuk menjadikannya dalam bentuk visual.

Sebelumnya, Gibran juga memaparkan metode paling umum dalam desain Permakultur. Wawasan itu menjadi bagasi yang memperkaya imajinasi peserta. Metode-metode itu antara lain: pertama, melakukan analisis sektor, antara lain melihat gerakan cahaya matahari, sebagai faktor utama kehidupan tanaman, kemudian sumber air, serta situasi sosial di lingkungan tersebut.

Kedua, memetakan keinginan dan kebutuhan, seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai motif kita untuk mengelola kebun. Baik itu, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, untuk dijual, kebun penunjang kedai dan seterusnya. 

Ketiga, menentukan zonasi, area yang bisa kita kelola, hingga lebih mengerucut ke area mata air, berkumpul, dan seterusnya. Termasuk jika kita memiliki rumah di lahan tersebut. Tanaman apa yang cocok dekat dengan rumah, entah itu fungsinya mengurangi tekanan angin dan cahaya, ataupun tanaman pengamatan intens, atau tanaman yang dikonsumsi.

Keempat, analisis elemen. Elemen-elemen apa saja yang tersedia dan apa saja yang perlu disediakan. Misal, seperti Hendra yang berternak sapi. Maka penting untuk menyediakan pakannya. Atau ayam yang kita butuhkan untuk mengurai limbah sisa makanan kita.

Para partisipan akhirnya membuat desain itu berkelompok. Setiap kelompok diisi oleh teman-teman Komunitas Gubuak Kopi yang memiliki kemampuan membuat sketsa. Beragam dialog terjadi, proses berandai-andai itu seakan bergerak terealisasikan satu langkah. Setelah desain selesai, para partisipan mempresentasikan imajinasinya berdasarkan prinsip-prinsip permakultur tersebut.