Pada kesempatan ini diskusi dipandu oleh Prima Nanda. Buya Khairani membukanya dengan merefleksi pengamatannya selama mengikuti kegiatan Daur Subur XI. Sebelumnya beliau juga terlibat selaku salah satu pemateri di Lokakarya Daur Subur XI. Selain itu, ia juga aktif mengamati proses diskusi, riset dan kolaborasi yang dilakukan oleh peserta. Buya Khairani melihat proses ini sangat menarik. Terutama dialog lintas generasi dan beragam latar belakang memperkaya pembacaan kolektif dalam melihat persoalan yang terjadi di Solok hari ini. Buya melihat, banyak hal-hal yang selama ini tidak bisa atau tidak selesai dibicarakan secara kebijakan pemerintah bisa diupayakan oleh inisiatif warga. 

Para partisipan Lokakarya Daur Subur XI yang hadir turut merefleksikan hal-hal yang mereka pelajari selama lokakarya dan bercerita terkait rencana proyeknya di masa mendatang. Pertama ada Doni Leo Nardo atau yang biasa disapa Raka. Menurut Raka, rangkaian diskusi dan kelas yang terjadi selama lokakarya menghadirkan beragam perspektif, yang kadang berbenturan, namun dalam konteks desain lokakarya ini, benturan tersebut dapat dilihat sebagai cara memahami pemikiran yang selama ini belum pernah dibicarakan. Sudut pandang yang tidak sesuai atau stigma konservatif, sering kali hanya karena kita belum pernah berani membicarakannya. Forum yang lintas generasi dan beragam latar belakang ini menjadi ruang untuk saling memahami bagaimana sudut pandang yang berbeda itu hadir, serta menjadi labor untuk menemukan kesamaan atau keterhubungannya.

Raka selaku partisipan yang memiliki latar belakang guru dan pembuat film, melihat banyak sekali persoalan pertanian yang dibahas selama lokakarya, perlu diarusutamakan kepada remaja. Selama lokakarya, Raka berfokus pada topik ini, dan menyusun beberapa strategi untuk mendaur posisinya sebagai guru dan pembuat film untuk memproduksi narasi tentang kebudayaan Solok dengan mengarusutamakannya di lingkup remaja. Ia juga berharap dan menantang para partisipan lainnya, khususnya yang berkaitan langsung dengan edukasi pertanian, agar dapat menjangkau remaja-remaja.

Partisipan selanjutnya ada Rio Ritu Selah. Refleksi yang sama dengan Raka, terkait perbedaan pandangan yang akhirnya memperkaya bagasi kita melihat persoalan yang terjadi di pertanian kita. Rio menambahkan selama ini kebudayaan sering kali menjadi perbincangan yang terpisah dengan pertanian. Dari sudut pandang umum orang-orang bekerja di luar bidang ini, sering kali kebudayaan disederhanakan sebagai tari-tarian, silat, kesenian tradisi, ataupun petuah-petuah tokoh adat. Lokakarya ini memberikan pandangan lain melihat kebudayaan. Kebudayaan adalah kesalingkaitan beragam praktik yang terjadi di sekitar kita, masa lampau ataupun hari ini. Situasi politik, sejarah, landskap alam, bahasa, dan proyeksi masa depan terkait persoalan hari ini adalah unsur-unsur yang saling berkaitan membentuk kebudayaan.

Pada lokakarya ini Rio menjawab tantangan Raka terkait edukasi mengenai pertanian sehat. Sebelumnya ia pun telah mempraktekkan pertanian sehat itu bersama Huma Inovasi yang ia kelola. Ia merancang program yang membuka kesempatan remaja untuk bisa melihat peluang ekonomi di bidang pertanian, serta hilirisasinya pada kuliner rendang yang juga ia kelola. Produksi narasi terkait proses pertanian sehat menjadi makan khas yang sehat adalah isu kebudayaan kuliner hari ini. Topik yang sama juga disambut oleh Hendra Saputra. Ia juga memiliki latar belakang sebagai seorang peternak dan ketua kelompok tani Galanggang Raya Farm. Kebunnya yang ia kelola di kelompok tani bisa dikembangkan menjadi ruang untuk mempelajari model pertanian terintegrasi. Hal ini cukup signifikan untuk mengkritisi pertanian umumnya di Solok atau di Indonesia saat ini, dengan skema industri, monokultur, dan membuat petani ketergantungan pada pupuk industri.

Peserta berikutnya adalah Ibu Sofni. Beliau merupakan bagian dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Nangka, serta aktif berkegiatan di komunitas kuliner Badaceh. Ia bersama KWT Nangka juga mengelola sebuah lahan di kecil di komplek perumahan tempat ia tinggal. Lahan tersebut ditumbuhi sejumlah tanaman hortikultura, tanaman hias, dan tanaman obat. Ruang ini pun menjadi ruang belajar menarik untuk para tetangga untuk saling berbagi pengetahuan, khususnya mendayagunakan lahan terbatas untuk merawat pengetahuan terkait pertanian. Ia juga menceritakan rencana kolaborasinya dengan M. Ilham Samudra, salah seorang tamu residensi Komunitas Gubuak Kopi, untuk menjadikan tamannya tersebut untuk diaktivasi sebagai ruang masak bersama para tetangga setiap beberapa bulannya. Aktivasi ini tidak hanya untuk membicarakan soal pertanian tetapi juga isu sosial dan pengetahuan lainnya yang dirasa relevan oleh para tetangganya.

Berikutnya ada Mimi yang turut memberikan refleksinya. Ia adalah seorang pegiat batik dan eco-print. Selama ini praktik yang ia kerjakan seringkali hanya dilihat sebagai ekonomi kreatif semata, jarang sekali praktik yang ia kerjakan dikatakan sebagai bagian dari kebudayaan pertanian. Dalam lokakarya ia menyadari topik “Solok sebagai hub kebudayaan pertanian” adalah hal yang sangat kompleks dan sangat relevan untuk diupayakan bersama. Bagaimana kebudayaan pertanian itu juga ditunjukkan dengan keahlian kita dalam memahami sifat, fungsi, dan karakter tanaman. Tidak hanya kandungannya untuk dikonsumsi, tetapi juga kemampuannya menghasilkan warna. Ia pun membayangkan dari praktik yang telah ia kerjakan terkait batik dan eco-print bisa terus dikembangkan dengan memetakan warna-warna yang bisa dihasilkan oleh tanaman serta limbah organik di sekitar kita. Ia juga memiliki pertanyaan yang belum terjawab, yaitu bagaimana limbah pewarna yang ia hasilkan juga dapat dikelola tanpa berdampak buruk dan mungkin bermanfaat menjadi sesuatu hal.

Banyak tanggapan dan ide-ide menarik yang bisa kita catat dari pertemuan ini. Secara umum, Buya Khairani menanggapi bahwa gagasan-gagasan yang muncul sangat relevan untuk baik itu dalam konteks adat maupun perkembangan kebudayaan hari ini. Menurut Buya Khairani, Daur Subur adalah labor kebudayaan untuk menjahit inisiatif warga menjadi identitas bersama, yang kita rasa relevan.