Catatan notulensi diskusi Daursubur Akhir Bulan edisi September bersama Mimi dari Batik Tarancak di Studio Batik Tarancak, Kota Solok, pada 28 September 2025.
Daur Subur Akhir Bulan kali ini dilaksanakan di rumah dan Studio Batik Tarancak, membahas soal kesenian batik dari sejarahnya dan bagaimana dia dikembangkan. Obrolan dibuka oleh MC Biahlil Badri, ia menjelaskan sedikit obrolan di Daur Subur Akhir Bulan sebelumnya, membahas perayaan-perayaan di batik, dan capaian-capaiannya di Indonesia dan di Solok secara khusus.
Mimi Batik selaku Narasumber menjelaskan bagaimana prosess mereka di Batik Tarancak sampai pada titik sekarang ini, menjadi salah satu tempat studi batik dan pewarna pakaian. Ia juga menjelaskan kisah-kisah hambatannya selama ini dalam mengembangkan dan menentukan karakter batik mereka.
Mimi Batik: Selain membatik dengan bahan batik pada umumnya, kami juga sedang dan terus belajar bagaimana mengeksplorasi warna pada pakaian, lalu kami melihat sekeliling rumah kami, bagaimana kalau tumbuhan di sekitar ini kita coba keluarkan warnanya?
Suami mimi: Banyak sebetulnya tanaman di sekitar kita yang belum kita kenali, yang sebetulnya ini juga menghasilkan warna, ada satu tanaman yang dulunya kita anggap hanya tanaman rumput dan hama, akhirnya setelah kita coba, dia punya warna yang bagus.
Banyak percobaan yang mereka lakukan, menemukan pengunci warna dari karat besi, dan lainnya, menjadi salah satu pengunci alami yang mereka temukan dan terus pakai di batik mereka. Kadang tidak selamanya warna pada tumbuhan menghasilkan warna yang sama, dia juga bergantung pada pengunci warna.
Kak At: iya, saya jadi teringat bagaimana kalau anak-anak kita terbiasa menggunakan pakaian yang terbuat dari bahan pewarna alami seperti ini, dia dipastikan aman secara kesehatan anak, jadi produk-produk batik tidak lagi hanya digunakan bagi orang dewasa, mereka yang bayi justru kita harapkan mereka bisa menggunakan pakaian yang kita tahu sumbernya dari mana dan kualitasnya. Begitu juga makanan, kita menanam bahan masakan di sekeliling rumah kita, yang kita tau pupuknya dari mana, dan perawatannya seperti apa, menurut saya ini akan lebih baik.




Buya Khairani : Sebetulnya kita di Minangkabau, punya tradisi halaman, bagaimana halaman rumah kita dikelilingi oleh tanaman-tanaman tertentu, misalnya untuk luka, masakan, obat dan lainnya, barangkali bahan pewarna juga merupakan salah satu kebutuhan yang kita perlukan di halaman rumah kita.
Ni Mel: Apa saja proses penemuan warna ini yang sudah dilakukan, apakah sudah ada pencatatan-pencatatannya? misal menguncinya sebagai satu temuan? nanti ini kita bisa juga urus menjadi hak cipta. kita bisa bantu dampingi cara mengurus izinnya kalau mau.
Amelia: Saya senang melihat proses ini semua, dulu juga saya tinggal di sebelah sini, melihat mimi batik bekerja, begitu juga dengan anak-anak magang mereka, sampai saat ini saya juga ingin belajar, bisakah saya bereksperimen juga dengan warna.
Di penghujung obrolan, kita kedatangan Kepala Dinas Ekonomi Kreatif Kota Solok dengan beberapa rekannya, beliau menyimak beberapa obrolan, kemudian memberikan apresiasi pada program ini.
Kadis Ekraf: Saya baru pertama kali datang ke program ini, tapi teman-teman di kantor sudah banyak yang memberitahu saya, sekarang menjadi kesempatan bagi saya untuk ikut meskipun terlambat. Jadi kehadiran saya saat bisa mendengar dan mencatat poin-poin apa yang bisa saya dukung nanti selama saya di Ekraf.
Obrolan ditutup dengan merencanakan Daur Subur Akhir Bulan berikutnya, soal lokasi dan temanya. Beberapa menawarkan di Huma Inovasi, Koto Baru Solok, akan membahas tradisi masakan Minang dan Solok, kemudian sembari workshop membuat rendang.