Catatan Simposium Daur Subur
Panel II: Berbenah Menuju Pertanian Sehat

Narasumber:
Akmal Yusmar
Wahyu Nusa Lubis

Moderator: Rizki RN

Jumat, 8 Agustus 2025
Lokasi : RN Coffee Roastery

Simposium Daur Subur – Panel II kali ini bertemakan “Berbenah Menuju Pertanian Sehat” hal ini dibahas bersama Akmal Yusmar, seorang petani kopi, dan ketua Asosiasi Kopi Minang, beliau sering mendorong bangkitnya kopi di Sumatera Barat, dan pernah membuat dokumenter seputar kopi dan anak muda. Narasumber kedua adalah Wahyu Nusa Lubis, seorang petani dan pengurus Bukik Gompong Organic Garden, beliau fokus pada prinsip-prinsip pertanian sehat bisa diupayakan di sekitar kita. Sedangkan, Bukik Gompong Garden adalah bagian dari kelompok Petani Bukik Gompong Sejahtera yang peduli pada sistem organik.

Rizki RN akan memandu simposium pada sore ini, dia adalah owner dari RN Coffee Roastery. Ia tertarik dengan hal seputar kopi, dengan begitu sejak tahun 2016 ia mendirikan dan mengembangkan RN ke banyak bentuk pemasaran.  Ia juga tergabung dalam Asosiasi Kopi Minang. Selaku moderator Rizki membuka dengan sekaligus memberikan tanggapan terhadap pertanian sehat yang sedang dikerjakan oleh Bukik Gompong, bagaimana itu bisa mereka upayakan?

Wahyu mengartikan jika kita ingin berbenah menuju pertanian yang sehat, kita memang harus kembali ke organik. Ia juga menjelaskan kenapa pertanian organik jarang dilirik, atau petani enggan beralih, ia membayangkan resiko-resiko yang dihadapi, terutama ekonomi dan persaingan dengan produk pertanian yang tersebar saat ini. Bahwa banyak produk pertanian yang memiliki modal pupuk yang besar, sedang di pertanian organik, sistem pemupukan adalah menyehatkan lingkungan, seperti tanah, tanaman sekeliling dan metode perawatan. Menurutnya tanah yang sering diberi pupuk kimia, cenderung lama hilang di tanah, maka ia memastikan sekeliling kawasan organik tidak ada penggunaan pupuk kimia.

Soal hama pun begitu, ia tidak menggunakan bahan kimia, ia justru memanfaatkan tanaman lain untuk keseimbangan, hama mestinya juga tidak dibasmi, melainkan dikendalikan, toh ia juga bagian dari ekosistem, bahkan ia datang lebih dulu. Pada penerapannya kita mesti kenal dengan apa yang kita tanam, mulai dari karakteristiknya dan dimana ia cocok untuk ditanam.

Pak Akmal membuka obrolannya dengan Al Waqiah ayat 64 “Kalianlah yang menumbuhkan tanaman yang kalian tanam ataukah Kami (Allah) yang menumbuhkan?”

Menurutnya Kopi sangat menarik, topik ini bisa dibicarakan di ranah internasional, karena dimana-mana orang butuh kopi. Saat ia bekerja di TVRI ia pernah membuat sebuah film dokumenter seputar kopi, bersama anak-anak muda Indonesia yang punya perhatian terhadap kopi, di nusantara.

Sekitar tahun 1908, Belanda memerintahkan bahwa kopi dari Sumatera Barat dibawa ke Aceh, yang sampai sekarang ini tumbuh di Aceh. Menurutnya kopi memang cocok ditanam di tanah Sumatera Barat, dari sekitar 40 negara yang cocok ditanami kopi. Ketika dia ditanam di Sumatera Barat kopi seakan menemukan rumahnya. Alasan lain Belanda menanam kopi di Indonesia adalah karena di sini kopi bisa dipanen dua kali setahun, begitu juga di Kolombia. Ia juga menambahkan, bahwa belanda datang ke sini gara-gara kopi, karena kopi juga kita mengusir Belanda. Seperti yang dilakukan teman-teman Bukik Gompong, bisa disebut reborn, karena kopi di sini sudah tumbuh sejak ratusan tahun yang lalu, hal ini juga di mention dalam buku All About Coffee.

Berbicara soal kopi, memang di Sumatera komoditas ini sangat menjanjikan, kopi juga yang memodali perlawanan terhadap Belanda, tidak sedikit juga perpecahan di lokal yang terjadi gara-gara merebutkannya. Ia menjadi sumber perekonomian yang besar saat itu. Hingga hari ini kopi seakan terlahir kembali di tangan-tangan yang baru, pasarnya yang semakin beragam, begitu juga dengan sajiannya. Hari ini juga anak muda mulai banyak tertarik pada pertanian kopi, ini seakan memberi gambaran kalau pertanian kita bisa didekatkan lagi dengan anak mudanya, artinya regenerasi tidak memusingkan.

Pertanian yang konvensional di hari ini, sangat bergantung sekali pada pola industri, dia diharapkan seperti mesin pencetak bahan baku. Akhirnya banyak hal yang kita lupa, seperti mengajak ekosistemnya, tidak mengijinkan tumbuhan lain hidup di ladang kita, selain yang bisa menghasilkan.

Seperti yang Bukik Gompong lakukan, ini semacam perlawanan terhadap lingkungan yang dirusak, dirusak dengan cara membuatnya terus menghasilkan. Hingga melihatnya sebagai makhluk hidup yang mesti berdampingan, tidak lagi mereka dapatkan. Dengan begitu bagaimana dengan pengetahuan seputar tanaman yang tumbuh di sekeliling kita? hal apakah yang bisa membuat kita bisa dekat melalui pengetahuan?

Pada komoditas dominan lainnya seperti padi, bisakah kita membayangkan, mengenal beras Solok seperti kita mengenal kopi? kenapa dia tidak begitu populer secara informasi pengetahuan, semisal nama-nama berasnya.