... dunia cukup indah di sini, kata orang kemarin malam

PAMERAN Komunitas Gubuak Kopi

“Dunia cukup indah di sini, kata orang kemarin malam”

Kurator: Indra Ameng

Pembukaan:
Kamis, 3 Oktober 2024
pukul 19.00 WIB

di Guds Gallery, Gudskul Ekosistem,
Jl Durian 30A, Jagakarsa, Jakarta Selatan
.
Pameran: 4 – 10 Oktober 2024

Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok belajar seni dan media yang berbasis di Kota Solok, sejak tahun 2011. Kelompok ini berfokus pada pengembangan seni sebagai metode riset. Serta menjembatani kolaborasi profesional (seniman, peneliti, dan penulis) dan warga dalam mendedah persoalan-persoalan budaya lokal di Solok secara khusus dan Sumatera Barat secara umum.
.
Pameran ini akan menghadirkan presentasi arsip-arsip pilihan Gubuak Kopi, dan serangkaian program yang terdiri dari: dialog dengan perantau, dialog dengan jaringan, menghidangkan makanan, pemutaran vlog kampung, serta hal-hal yang terhubung dengan kerja-kerja Gubuak Kopi selama ini. Mempertemukan arsip-arsip ini dengan publik yang berbeda terutama perantau, dalam merefleksi kampung dan membicarakan wacana ke depan, adalah agenda yang penting untuk banyak lagi pertemuan setelah ini. Mengingat peran perantau/kelompok perantau dalam pembangunan tanah kampung masih terus berjalan hingga kini. Arsip dari pertemuan-pertemuan yang terus bertambah dan bahkan berkembang ini menjadi landasan Komunitas Gubuak Kopi dalam membongkar dan menyusun kembali arsip tersebut ke dalam sebuah presentasi khusus di Guds Gallery.

Komunitas Gubuak Kopi x Ruru Radio

Dalam pameran ini, Komunitas Gubuak Kopi berbincang bersama sejumlah jejaring yang sebelumnya pernah berkegiatan bersama Komunitas Gubuak Kopi, baik itu pada kegiatan workshop, riset, dan project lainnya. Selain bersilaturahmi, pertemuan ini menghadirkan kurasi dialog dengan praktik-praktik aktivisme jejaring Daur Subur dan mendengar rencana ke depan dari teman-teman ini. Dialog yang bertajuk “Ota Sero” ini direkam dan disiarkan melalui rururadio.org dalam bahasa minang. 

Selain itu juga terdapat sesi “Dialog Perantau” bersama sejumlah “aktivis” perantau, yang memiliki perthatian pada bidang kebudayaan. Dialog ini mencoba membongkar relasi antara perantau dan kampung halaman dalam agenda “pembangunan” yang berbasis pada kebudayaan.

Episode ini Komunitas Gubuak Kopi mempertemukan dialog pengarsipan yang sudah dilakukan selama ini oleh Komunitas Gubuak Kopi dengan publik yang berbeda terutama perantau Minang, dalam merefleksi kampung dan membicarakan wacana ke depan. Hal ini dianggap penting mengingat peran perantau/kelompok rantau dalam pembangunan tanah kampung masih terus berjalan hingga kini.

Dialog Perantau
Pembicara: H. Rino Kurniawan (Pengusaha Minang), Aidil Usman (Anggota Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta), Annisa Nabila Khairo (kamarkost.ch), Biahlil Badri (Komunitas Gubuak Kopi)
Pemantik Dialog: Esha Tegar Putra (Sastrawan)

 

Amelia Putri

Amelia menamatkan studi S1 pertanian di Universitas Andalas, salah satu partisipan Daur Subur (sebuah platform, dari Komunitas Gubuak Kopi yang mengkaji seputar kebudayaan yang berkembang di masyarakat pertanian, Solok, dan Sumatera Barat Secara Umum). Ia juga sudah merilis sebuah antologi “Untuk Cinta dan Kemanusiaan” yang berisikan tentang para relawan. Beberapa tahun belakangan Amel terlibat dalam Gelanggang Raya Rafm yang berfokus pada peternakan, pertanian, bisnis dan edukasi di Solok.

Bersama suaminya Hendra, sekarang ia lebih sering berkegiatan dalam peternakan. Menarik melihat praktik mereka dalam membangun dan mengembangkan pengetahuan tersebut di Solok secara swadaya. Pengetahuan tersebut juga ia perkenalkan pada anak-anak lalu mendistribusikan susu kambing dalam kemasan. Dalam praktiknya ia juga banyak mengakali ruang dalam peternakan yang ramah.

Noura Arifin
Noura adalah Sarjana Komunikasi Penyiaran di UIN Imam Bonjol, Padang. Semenjak berkuliah Noura tertarik mengikuti dunia jurnalisme. Karier jurnalistiknya dimulai di media-media lokal membahas isu seputar gender, gaya hidup baru, hukum dan hak asasi manusia, politik dan lingkungan. Selain itu ia juga menjadi kontributor tulisan di halaman Ekuatorial di situs GeoJurnalisme (situs yang mempublikasikan tulisan dan visualisasi terkait lingkungan, mencakup isu; kehutanan, kelautan, krisis iklim, masyarakat dan keanekaragaman hayati lainnya). Di samping menjadi jurnalis ia juga terlibat dalam mengelola dan mengembangkan website InfoSumbar sampai tahun 2023.

Di Komunitas Gubuak Kopi ia juga pernah terlibat dalam Lokakarya Daur Subur #8 pada tahun 2021 di. Solok. Modal pengetahuannya di jurnalisme warganya tersebut terus ia manfaatkan dalam dunia kerjanya saat ini. Beberapa waktu belakangan ia terlibat dalam pembuatan film dokumenter terkait isu politik dan lingkungan, menarik mendengar cerita-ceritanya menjadi jurnalis muda, dan pengalamannya menghadapi berbagi persoalan saat menelusuri materi risetnya. Saat ini Noura juga tergabung dalam Aliansi Jurnalisme Indonesia, dan sedang menjalankan sebuah proyek investigasi.

Ogy Wisnu Suhada – Cugik

Lulusan Seni Rupa di Universitas Negeri Padang. Ia mendirikan Forum Studi Ladang Rupa, sebuah forum pengembangan seni dan budaya di Bukittinggi. Di forum tersebut ia menginisiasi beberapa program seperti, Bioskop Taman, sebuah program pemutaran dan diskusi film, dan juga sebuah kelas belajar-workshop sebagai laboratorium anak muda sekitarnya. Bersama Ladang Rupa ia melakukan riset seputar seni rupa di Sumatera Barat, seperti Oesman Effendi pada tahun 2020.

Selain aktivitasnya di Ladang Rupa, saat ini Cugik adalah seorang guru seni di SMK N1 Ampek Angkek. Dalam dunia sekolah ia juga mempraktekkan metode belajar ala kolektifnya bersama muridnya di sekolah, dalam bidang desain dan seni rupa. Metode tersebut ia kenalkan berupa mencari jejaring dan kaitannya dengan dunia kerja.

Alfi Syukri
Telah menyelesaikan Pasca Sarjana prodi Hukum Keluarga di UIN Imam Bonjol, Padang. Saat ini mengabdi di LBH Padang, ikut serta mengadvokasi kasus-kasus hukum struktural. Selain itu, juga aktif di sebuah komunal bernama Sekolah Gender (sebuah kelompok yang berfokus pada kajian tentang gender dan yang bersinggungan dengan hal tersebut). Selain itu juga aktif terlibat di Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI). Secara keseluruhan kegiatan Alfi fokus mengedukasi dan mengorganisir masyarakat agar berdaya tentang keadilan gender dan tentang keberagaman dalam beragama, serta lingkungan.

Dalam menangani banyak kasus di Padang dan sekitarnya, pengalamannya terlibat di berbagai kegiatan kolektif menjadi modalnya dalam mengelola pengarsipan kasus-kasus. Juga pada siasatnya menangani kasus-kasus tersebut, Alfi berupaya membahasnya dalam segi yang beragam, dalam artian membuat kasus mudah untuk dipahami banyak orang. Seperti penggunaan media sosial yang menjadi salah satu media untuk menelusuri pola-pola kasusnya.

Khairuzzaki Aziz

Biasa disapa Zaki atau Jack. Lulusan Fakultas Pertanian jurusan Agroekoteknologi pertanian, Universitas Andalas. Ia pernah menjadi Manager Kajian dan Analisis Lingkungan yang tergabung dalam Wahana lingkungan hidup (WALHI) Sumatera Barat. Zaki terlibat sebagai partisipan Daur Subur bersama Komunitas Gubuak Kopi di Padangsibusuk Sijunjung pada tahun 2017. Zaki juga seoerang trainer dan konsultan pertanian bersama kelompok tani di Sijunjung. Dan akhir-akir ini zaki juga mengembangkan bisnisnya sebagai distributor buah di Kota Payakumbuh.

Keterlibatannya yang banyak bersinggungan di lingkungan dan pertanian, menjadikannya punya banyak waktu untuk menyiasati banyak hal pula. Di sesi ini kita akan ngobrol banyak hal bersama Zaki dalam hal pertanian dan lingkungan, terutama pada praktiknya menyiasati buah-buah yang tidak habis terjualnya diolah menjadi pupuk kompos. Selain itu ia juga banyak bereksperimen terkait buah untuk mendapatkan kualitas yang semakin baik.

Fani Rovika

Pernah terlibat sebagai volunteer yang aktif di Desk Disaster WALHI Sumatera Barat. Sebagai alumni COP School #Bacth7 (Sekolah konservasi Orangutan), ia juga menjalankan tugas sebagai koordinator Forum Orangufriends Padang. Sementara itu, sebagai Representative officer Animal Indonesia Sumatera Barat, ia berperan aktif dalam upaya-upaya penyelamatan satwa liar dan habitatnya terkait sengketa lahan yang terjadi, serta masih tingginya konflik satwa dan manusia. Di Komunitas Gubuak Kopi ia juga pernah terlibat dalam lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk bersama PKAN (Pekan Kreatifitas Anak Nagari) di tahun 2018.

Saat ini Fani masih aktif dalam memperhatikan satwa-satwa eksotis di lingkup Sumatera seperti Harimau dan satwa hampir punah lainnya. Di samping itu melalui Sumatera Wild Adventure, ia aktif mengembangkan jejaring terkait aktivitas sosial berbasis konservasi, seperti edukasi seputar dunia satwa dan berkolaborasi bersama pemerintah setempat dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Fani menyadari bahwa konsistensi, tanggung jawab sosial, jangkauan dan relasi tersebut dapat membuat kepercayaan masyarakat seputar lingkungan dan konservasi.

Muhammad Ilham Armi – Caam

Setelah menamatkan S1 Hukum Keluarga di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, saat ini ia sedang melanjutkan program Magister di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pengalaman penulisannya dimulai dari keikutsertaannya dalam Suara Kampus, sebuah media yang dikelola oleh UKM Lembaga Pers mahasiswa di Padang. Selain itu ia juga juga tergabung dalam paguyuban alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang. Bersama Gubuak Kopi pada tahun 2019, Caam dan teman paguyubannya menyelenggarakan Daur Subur di Parak Kopi sebagai partisipan, menyoroti kehidupan pertanian di masyarakat kampung di tengah-tengah Kota Padang.

Hingga saat ini modal-modal organisasi tersebut terus ia kembangkan ke dalam praktiknya dalam menyelesaikan program magisternya, begitu juga dalam risetnya seputar Hukum Keluarga, tak jarang Caam menggunakan media dan metode kolektivisme dan seni yang dianggapnya relevan dan pesannya tersampaikan dengan baik dan mudah dipahami banyak orang.

Perhatiannya pada hal yang bersinggungan dengan Hukum Keluarga, Islam dan organisasi, surau, adat, dan pemerintahan. Menurutnya cara kerja kolektif adalah metode yang tepat untuk menelusuri dan mengembangakan dan berbagi pengetahuan tersebut ke sesama. Lalu bahasan-bahasan tersebut banyak dimuatnya di koran dan di berbagai website komunitas dan instansi terkait.

Rozi Erdus – Ojik

Adalah seorang anak muda yang lahir di Tikalak, sebuah nagari di Kecamatan X Koto Singkarak. Ia pernah berkegiatan seputar konservasi pendakian gunung Sumatera Barat dalam gerakan Trashbag Community, sebuah komunitas peduli sampah gunung, sebagai Dewan Pengurus Daerah Sumatera Barat pada 2013. Ia mulai aktif menulis semenjak keterlibatannya di berbagai kegiatan seperti; Forum Aktif Menulis di Bukittinggi 2014, kelas kepenulisan di Tugu Jendela pada tahun 2015. Dia sudah menerbitkan Antologi puisinya bersama Kata Kerja Makassar pada tahun 2021 dan 2023.

Saat ini Ojik bekerja sebagai Staf Umum Pemerintahan Nagari Tikalak. Kesempatan ini ia mamfaatkan membentuk sebuah kelompok anak muda di Tikalak dalam menyoroti isu-isu seputar kebudayaan, sejarah dan lingkungan di Tikalak. Selain itu bersama Kemendikbud ia ditunjuk sebagai Daya Desa, (sebuah program riset-mengkaji budaya daerah), yang difasilitasi Gubuak Kopi, sejak Juli 2024.