Kedai Uni Lisa merupakan rumah panggung yang berdiri di atas beberapa tiang setinggi dua setengah meter. Kedai ini mengangkangi Danau Singkarak. Ada banyak bangunan semacam  itu di sekitaran bibir Danau Singkarak, terutama di Tikalak. Tikalak merupakan sebuah nagari[1] di Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok,  Sumatra Barat. Nagari Tikalak terdiri dari tiga jorong[2], masing-masing Jorong Batu Api, Jorong Pasir Tikalak, dan Jorong Tikalak Tengah

Sudah hampir empat bulan belakangan ini permukaan air  Danau Singkarak  surut lebih dari dua meter. Kalau dihitung dari bibir pantai dekat kedai Uni Lisa, batas air sudah menjauh ke arah tengah danau hingga lima belas meter. Kondisi ini membuat warga atau pengunjung bisa duduk lebih  leluasa di bawah panggung  kedai itu. 

Malacik Ikan Bilih di Tepian Danau Singkarak

Kedai  yang menghadap ke arah barat ini makin sore makin menantang matahari. Inilah  waktu yang pas untuk malacik [3] ikan bilih. Ikan bilih merupakan kebanggaan para nelayan Danau Singkarak. Biasanya ikan ini diangkut dari bagan[4] pada sore hari.   Ikan bilih yang dibawa siang  hari biasanya mengalami pacah paruik[5], istilah untuk menggambarkan kondisi ikan bilih yang tidak begitu baik. Ikan bilih pacah paruik iniperutnya lunak dan sulit untuk dibersihkan. Tidak jarang tulang-tulangnya menusuk jari-jari. Ada dua sebab utama mengapa terjadi kondisi pacah paruik  antara lain pengaruh suhu air dan waktu pengangkatan ikan bilih dari bagan. Ikan bilih sebaiknya tidak diangkat dari bagan saat siang hari, karena siang hari adalah saat ikan-ikan makan, saat itu makanan di dalam perutnya belum lunak dan belum dicerna. Itulah mengapa, saat terbaik pengangkatan ikan bilih adalah di sore hari.

Aktivitas malacik bilih, menurut Uni Lisa membuat kulit telapak tangan menjadi licin. Orang-orang yang hapenya  menggunakan sistem kunci sidik jari, tidak disarankan ikut malacik bilih. Tidak jarang genggaman hape[6] menjadi ‘los’ dan terjatuh. Memang disarankan menggunakan sarung tangan saat malacik. Tapi menurut Uni Lisa, tidak enak kalau tidak menyentuh bilih secara langsung. Kita tidak merasakan tekanannya, alhasil resiko bilih pacah paruik dan jari tertusuk tulang lebih tinggi.

Sore itu, lima orang ibu atau uni-uni bercengkrama di bawah rumah. Mereka membicarakan banyak hal seputar kampung dan  persaingan antartoke[7] di pasar. Sering kali yang dibicarakan tentang salah satu penampung ikan di pasar yang menawar harga ikan terlalu murah, dengan dalih pacah paruik. Situasi ini sering terjadi. Pada tahap ini, muncul satu peran lagi, yaitu amak-amak toke bilih atau ibu-ibu pengepul ikan bilih. Kepiawaian mereka dalam memasarkan, berteman, dan memastikan kualitas sangat menentukan harga jual. 

Para nelayan menyetor ikan kepada amak-amak toke bilih. Amak-amak toke bilih memberikan ikan kepada uni-uni yang malacik.  Ikan bilih hasil malacik disetor kembali ke amak-amak toke bilih untuk dijual kepada toke di pasar. Sepulang amak-amak toke bilih dari pasar, barulah uni-uni yang malacik mendapat upah sebesar lima ribu rupiah setiap kilogram ikan. Dari setiap kilogram ikan yang terjual, amak-amak toke bilih juga mendapat jasa sebesar lima ribu rupiah per kilogram. Sisanya adalah rezeki nelayan.

Sore itu kami memiliki sekitar 40 kilogram ikan bilih. Dua kali lipat dari panen-panen minggu sebelumnya. Senyum uni-uni seketika merekah.

“Sepertinya acara alek (pesta) kita disambut baik oleh Danau Singkarak, minggu-minggu ini bilih meledak!” gumam salah seorang warga di kolong rumah Uni Lisa.  Beberapa minggu  terakhir  ikan endemik danau ini memang cukup melimpah, mungkin lantaran menurunnya debit air.  

“Sejak debit air menurun, bilih mudah ditangkap,” ungkap Al Fajri  atau yang biasa kami sapa Uda Al, salah seorang nelayan di Danau Singkarak. Maledak[8] demikian warga menyebutnya. Ungkapan syukur itu sering terdengar di tongkrongan warga. Dalam kondisi surutnya air danau,  warga yang biasa memanen 10 kilogram  akhirnya bisa memanen 20-30 kilogram. Setelah proses malacik, ikan-ikan bilih akan dibawa oleh amak-amak toke bilih ke Pasar Ombilin[9] yang berjarak  sekitar 10 menit dari Tikalak dengan menggunakan sepeda motor.  

Sore itu malacik telah selesai, amak-amak toke bilih sudah pulang dari pasar. Kami melanjutkan obrolan mengenai festival. Uda Al bertindak selaku direktur festival, dan Uni Lisa yang bernama lengkap Lisa Ariadi Kamil bertindak sebagai manajer program.

Gagasan Merayakan Danau Singkarak  

Sejak pertengahan tahun 2024, Rozi Erdus seorang pemuda Singkarak terpilih menjadi Daya Desa—sebutan untuk penggerak kebudayaan desa. Rozi memiliki perhatian terhadap ekosistem Danau Singkarak. Danau ini menjadi poros daur hidup sebagian besar warga di sekitarnya. Kekayaan flora dan fauna danau ini menjadi sumber  mata pencaharian warga. Keseharian warga dalam mengelola dan menjaga ekosistem danau ini merupakan bagian dari kebudayaan dan pengetahuan setempat. Pengetahuan tersebut antara lain teknologi pemanenan ikan, teknik pengolahan ikan, hingga bagaimana ikan-ikan dirayakan.

Setelah proses temu-kenali[10] yang cukup padat, Rozi mempresentasikan hasil pemetaannya dalam bentuk pameran dan diskusi publik. Pameran tersebut menjadi panggung amak-amak toke bilih dan nelayan ikan bilih untuk memberi gambaran mengenai sirkulasi ekosistem ikan bilih di Danau Singkarak, serta distribusinya di pasar-pasar. Presentasi ini menarik semangat warga dalam melihat apa yang selama ini mereka kerjakan dengan “berkesadaran,” dan memahami lebih jauh potensi-potensi yang mereka miliki. 

Tahun ini  Rozi menindaklanjuti perhatiannya pada  ekosistem Danau Singkarak dengan berdialog bersama pemuda dan kelompok warga di Tikalak. Gagasan untuk merayakan pengetahuan warga dalam bentuk alek nagari[11] muncul. Mereka mengundang keterlibatan lebih banyak warga dan munculah Mangirai di Tapian sebagai tajuk festival, dengan tema “Perempuan, Nelayan, dan Tepian Danau Singkarak.” Mangirai di Tapian berasal dari kata mangirai dan tapian. Dalam kosakata Bahasa Minangkabau, mangirai merupakan aktivitas memilih ikan-ikan yang tersangkut di alat tangkap seperti jala, jaring, atau pukat nelayan setelah dikibas dan dibentangkan.  Sedangkan tapian  merupakan tepian danau.  

Tema ini seakan mempertegas perhatian Rozi terhadap subjek-subjek human ataupun non human yang berperan dalam menjaga ekosistem Danau Singkarak. Tepian danau menjadi ruang temu antara warga dengan danau—tempat warga berhadapan dengan anugerah air yang melimpah dan ikan-ikan bermunculan. Danau Singkarak juga menjadi ruang tempat rasa syukur dan keluhan sering diucapkan. Bahkan danau ini menjadi tempat warga berdialog menguji dugaan-dugaan mengenai cara kerja alam, energi, dan semesta yang tidak pernah selesai dengan logika saja. 

Kelompok warga seperti amak-amak toke bilih, kelompok Bundo Kanduang, anak muda, dan lainnya menyambut baik gagasan tersebut. Semua ingin terlibat. Bagi mereka pesta itu adalah peristiwa yang mereka tunggu-tunggu, dan akan menjadi alek nagari pertama di Nagari Tikalak. Sebuah helat yang dirancang sebagai ruang mengekspresikan rasa syukur atas hasil alam Danau Singkarak, khususnya Nagari Tikalak. Helat ini juga merupakan ruang temu warga dalam transfer pengetahuan, silaturahmi, dan dialog mengenai pembangunan Nagari Tikalak melalui metode kebudayaan, khususnya keselamatan ekosistem Danau Singkarak di masa mendatang.

Proses-proses dialog yang terjadi di kalangan warga adalah proses otokritik dan artikulasi posisi kritis warga itu sendiri sebagai warga berdaya. Warga bersama-sama mendorong perubahan konkrit bagi wilayahnya demi hidup yang lebih baik, melalui berbagai pendekatan—salah satunya pendekatan seni budaya.

Bilih, Ikan Kecil dari Tepian Kita

Ikan Bilih merupakan ikan kecil yang kemudian oleh Pieter Bleeker diberi nama latin “Mystacoleucus padangensis” (1852). Seperti yang dideskripsikan Azhar (1993), sirip punggung bilih mempunyai jari-jari keras (berduri) yang rebah ke depan, kadang-kadang duri ini tertutup oleh sisik sehingga tidak kelihatan jika tidak diraba. Sirip dubur tidak mempunyai jari-jari keras, hanya terdapat delapan sampai sembilan jari-jari lemah; badan bulat panjang dan pipih, tinggi badan 2-3 cm, panjang badan maksimum 11,6 cm; sisiknya kecil-kecil dan tipis, terdapat 37-39 baris antara tengah-tengah dasar sirip punggung dan gurat sisi (lateral line); tubuh ditutupi oleh sisik yang berwarna keperak-perakan. Punggung dan ekor bagian sebelah sirip berwarna kehitam-hitaman[12].

Ikan ini konon hanya hidup di perairan Danau Singkarak. Baru pada kisaran tahun 2000-an, peneliti dari Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan Dan Perikanan, Departemen Kelautan Dan Perikanan, memperkenalkan spesies ini ke perairan Danau Toba. Di sana, ikan bilih berkembang menjadi dua bentuk. Yang satu, berukuran lebih besar, sekitar dua sampai tiga jari orang dewasa. Yang lainnya berukuran biasa, satu sampai dua jari orang dewasa, mirip dengan Ikan Bilih Singkarak, namun untuk dimakan rasanya jauh berbeda. Ikan bilih yang berkembang di Danau Toba tersebut oleh masyarakat lokal disebut Ikan Pora-pora, diambil dari nama ikan yang telah punah di sana. Ikan Pora-pora ini kadang dijual lagi ke kampung halamannya, di Singkarak. Di sini, keluarga ikan bilih yang berkembang biak di Danau Toba itu lebih akrab disebut Ikan Bilih Medan. Ikan jenis ini rasanya lebih pahit, kadang hambar, dan ia juga beredar dalam kemasan berlabel Bilih Singkarak.[13]

Di kalangan ilmuwan perikanan, pedagang, atau masyarakat umum, ikan bilih lebih dikenal sebagai makanan dan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Jarang sekali ada yang membicarakannya sebagai makhluk hidup, ikan-ikan hias, atau sebutan lain. Ia sering ditempatkan sebagai objek layak jual dan dikonsumsi. Warga Tikalak umumnya memanen ikan bilih menggunakan jaring, pukat, dan bagan. 

Bagan merupakan  teknologi paling baru di Tikalak berupa instalasi bambu dalam bentuk persegi—seperti kolam kecil di atas danau yang luas. Instalasi ini  diapungkan oleh drum besar dan benen—lapisan dalam ban mobil. Lalu di tengahnya diberi lampu untuk memancing agar ikan berkumpul di tengah bagan. Ukuran bagan biasanya 4×4 meter hingga 6×6 meter. Setelah ikan terkumpul, jaringnya ditarik. Teknologi ini sempat diperdebatkan. Banyaknya jumlah bagan di Danau Singkarak  menyulitkan nelayan lain untuk membentang jala atau pukat—terutama karena bagan-bagan tersebut diam tak bergerak. Ada juga sejumlah kekhawatiran tentang dampak bagan pada kemungkinan krisis ikan. Dugaannya, ukuran jaring yang terlalu rapat bisa membawa anak-anak ikan, sebelum mereka sempat bereproduksi. Kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada bagan, tetapi juga pada jala, pukat, dan alat tangkap lainnya. 

Menurut peraturan Pemerintah, jaring seukuran kurang dari satu inci tidak diperbolehkan, karena jaring tersebut juga akan menangkap anak-anak ikan yang belum ‘matang’ atau belum layak untuk dipanen. Saya pernah memiliki dugaan yang sama. Namun menurut warga, cara kerja bilih tidak seperti itu. Ikan bilih berenang berkelompok berdasarkan usia nya. Ikan kecil berenang bersama anak-anak ikan, dan  ikan dewasa akan berkumpul dengan sesamanya. Ukuran jaring yang ideal, berdasarkan anjuran Pemerintah, adalah jaring satu inci. Namun, jaring seukuran itu mengalami kesulitan untuk mendapatkan satu liter ikan.  Jaring itu cukup berat, selingkaran jaring itu diberi pemberat berupa rantai. Setiap setelah melemparnya, jaring itu dirapikan kembali agar ia terbuka merata setelah dilempar, kemudian dibiarkan sekitar 5 menit lalu ditarik. Ikan yang tertangkap dikeluarkan, lalu jaringnya dirapikan lagi. Begitu juga dengan teknik pukat dan jala. Proses membuka jaring, jala atau pukat Inilah yang disebut mangirai

Kecemasan harga ikan bilih yang tidak pasti dan kecemasan akan menurunnya populasi bilih, perlu terus dibicarakan. Teori-teori dari kalangan akademisi dan pemerintah juga perlu berdialog dengan pengetahuan yang berkembang di kalangan warga.  Festival bisa menjadi pilihan untuk melembagakan dialog tersebut antara lain mempersiapkan keselamatan masa depan; kedaulatan pangan, keselamatan kolektif, pemukiman dan tata ruang, serta perbaikan sistem pendidikan dan tata kelola kebudayaan.

Lapangan di Tapian, sebagai Titik Temu

Pagi itu warga mulai berkumpul di sekitaran Masjid Raya Tikalak. Ibu-ibu yang terlibat dalam bararak (arak-arakan) ini mulai menyusun dulang yang akan mereka junjung di kepala mereka. Tradisi ini juga biasa muncul dalam alek pernikahan, kali ini dalam alek nagari Mangirai di Tapian, mereka membawa berbagai makanan mulai dari lauk, dan makanan ringan tradisional. Tidak lupa diriuhkan oleh bunyi-bunyian yang berasal dari rombongan talempong pacik, yang siap untuk mendampingi ritme langkah dan para penaripiriang mengayunkan piringnya. 

Pagi itu kami menuju lapangan Tikalak di Jorong Pasir. Lapangan ini merupakan ruang lepas di pinggiran danau. Sehari-hari lapangan ini merupakan tempat anak-anak bermain bola di sore hari.  Saat Idulfitri dan Iduladha,  lapangan ini dipakai untuk shalat Ied. Kali ini mereka punya agenda baru, alek nagari: Mangirai di Tapian. Beserta rombongan turut serta para perwakilan niniak mamak, bundo kanduang, alim ulama, cadiak, pandai. Sementara itu tuan rumah dan wali nagari menunggu di gerbang kegiatan. Mereka mengalungkan kain kepada perwakilan tamu yang datang, dan mengiringi ke lapangan.

Di lapangan, puluhan kain melambai-lambai menyambut semua orang. Kain-kain itu digantung pada tiang-tiang bambu menyerupai perancah(scaffolding) atau bagan-bagan tinggi. Bambu  Batuang dikumpulkan dari lahan warga dan bekas bagan atau yang akan menjadi bagan ikan. Para pemuda saling unjuk kemampuannya selama ini dalam merakit bagan. Membuat bagan selama ini seakan latihan para pemuda itu, dan festival ini menjadi ajang uji kemampuan tersebut. Kain-kain yang melambai itu di antaranya adalah wajah-wajah mereka yang konsisten melakukan aktivitas perikanan dengan baik, mereka yang senang membagi pengetahuannya kepada generasi penerus. Di antara kain-kain itu juga terpampang teks-teks yang merefleksikan semangat keberdayaan warga. 

Yang paling menyita perhatian adalah seratus satu tungku yang membentuk setengah lingkaran di lapangan. Beberapa hari sebelumnya para pemuda telah mengambil batu-batu sebesar kepala dari bibir danau. Lebih dari  tiga ratus tiga puluh batu diangkut untuk dimanfaatkan sebagai tungku. Pada hari perayaan alek nagari, tungku-tungku itu telah dibuat berasap oleh rombongan ibu-ibu. Mereka unjuk kebolehan mengolah hasil danau. Olahan hasil danau antara lain  pangek bilih, dendeng pensi, rendang bilih, bilih lado ijau, gulai bilih, goreng bilih dengan sambalado uok, dan seterusnya. Para tamu yang menyaksikan kebolehan itu, dipersilahkan mencicipi.

Para janang[14] menyusun nasi di bawah tenda. Setelah ibu-ibu selesai dengan seratus satu tungkunya kami merapat, bersila di bawah tenda. Di bawah tenda inilah, kami menyantap hidangan sembari mensyukuri atas hasil alam yang melimpah. Kami semua makan dengan lahap bersama hujan yang mulai turun.

Esok Harinya kami berkumpul bersama ibu Zuhermi (68 tahun) atau yang biasa disapa Mak Cik. Beliau adalah salah satu warga yang aktif memproduksi bilih goreng dan mengirimkannya ke berbagai daerah. Mengolah bilih bukan satu-satunya keahlian beliau. Selama di Tikalak—kami tinggal di rumah beliau—Mak Cik menyajikan banyak sekali makanan enak. Kali ini beliau akan berbagi sejumlah pengetahuannya tentang masakan khas Tikalak,  khususnya mengenai teknik-teknik memasak.  Salah satu teknik memasak yang khas yaitu jariang abu. Jariang abu adalah memasak jengkol yang ditimbun dalam bara. Adapula teknik memasak  sambalado yang diuap sembari memasak nasi, dan beragam menu lainnya. Ruang ini menjadi ruang yang cair tempat ibu-ibu muda menanyakan resep-resep untuk membahagiakan keluarganya, sebuah distribusi pengetahuan yang menyenangkan.

Pada sesi lain, kita berjumpa dengan kelompok amak-amak toke bilih. Sesi cerita ini sangat menarik karena  menjadi ruang mengapresiasi ragam profesi—yang muncul dari aktivitas nelayan danau. Pada malam harinya kami menonton karya film yang diproduksi oleh amak-amak toke bilih ini. Film ini bercerita tentang keseharian amak-amak toke bilih membuka harapan pada para nelayan untuk memastikan ikan-ikan mereka terjual. Termasuk cara-cara mereka menghibur diri. Amak-amak toke bilih merupakan salah satu rantai kunci dari distribusi ekosistem bilih di Singkarak. Sebelumnya ibu-ibu ini mengikuti workshop singkat mengenai literasi media yang dipandu oleh Komunitas Gubuak Kopi. Workshop  berupa  pelatihan sederhana mengenal cara kerja media dan mendayagunakan telepon genggam dalam memproduksi narasi dari perspektif warga. Film itu adalah rajutan dari puluhan video yang diambil oleh tujuh  orang amak-amak toke bilih menggunakan telepon pintar mereka.  

“Sudah waktunya Tikalak punya pasar sendiri, agar uang juga berputar di kampung kita, tidak hanya di kabupaten tetangga,” demikian pesan amak-amak toke bilih dalam sambutan pemutaran film mereka. Sungguh harapan yang masuk akal.

Dalam festival ini, ada beragam produk untuk dikembangkan sebagai rantai ekonomi ekosistem danau. Saya tidak tahu realisasinya akan seperti apa. Tantangan ini adalah tantangan untuk warga Tikalak dan juga para pemangku kebijakannya. Diskusi ini juga sempat muncul pada presentasi Rozi tahun lalu. Presentasi Rozi ditanggapi antusias oleh sejumlah narasumber, termasuk dari Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Solok. Festival ini merupakan metode yang tepat untuk membicarakan hal-hal yang tidak selesai dibicarakan secara kelembagaan. Festival ini ataupun dialog-dialog yang terjadi setelah festival adalah tiang tempat imajinasi kolektif itu diikatkan, dikembangkan, dan direalisasikan.

***

Festival telah usai, proses yang terjadi tidak hanya produksi pesta, melainkan juga tantangan merawat solidaritas warga dan cita-cita Tikalak menjadi ruang hidup yang aman. Semasa festival hujan tidak henti-henti mengguyur Singkarak, bahkan Sumatra.  Intensitas curah hujan yang sangat tinggi berlangsung terus-menerus selama berhari-hari di wilayah hulu sungai di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kondisi cuaca ekstrem ini menyebabkan tanah jenuh air dan sungai meluap drastis. Bencana ini diperparah akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Masifnya alih fungsi lahan dan penggundulan hutan(deforestasi) di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menghilangkan kemampuan alam untuk menyerap dan menahan air hujan. Aktivitas seperti pembukaan lahan perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur yang tidak terkontrol di area resapan air telah mengurangi tutupan lahan alami. Air hujan tidak tertahan oleh akar pohon dan langsung meluncur ke dataran rendah, membawa material tanah dan kayu, yang memicu banjir bandang dan tanah longsor yang dahsyat. 

Hari keempat setelah festival, banjir bandang dan longsor terjadi di mana-mana. Danau Singkarak menjadi muara dari sungai-sungai yang meluap itu. Ratusan potongan kayu balakan liar mengapung di permukaan danau. Ikan-ikan pening, mengapung dan mudah ditangkap dengan tangan. Lumpur dan belerang di dasar danau naik ke permukaan. Permukaan danau berubah warna menjadi hitam. Sementara air di muara berwarna coklat membawa kayu dan lumpur baru. Cahaya tidak menembus danau, ikan-ikan kekurangan oksigen. Warga menyebut peristiwa ini dengan istilah bangai, beberapa orang menyebutnya kentut Gunung Marapi.

Solidaritas warga kembali diuji. Pembangunan yang selama ini dicanangkan pemerintah mengadopsi logika urban, telah merubah lanskap geografis, budaya, sosial, dan sistem ekonomi yang mengabaikan keselamatan masa mendatang. Apakah desa mampu menunjukan kembali  kebertahanannya selama masa krisis? Kemampuan warga mengelola sumber daya alam menjadi modal kultural yang efektif dan masuk akal untuk kita dalami bersama sebagai perangkat pembangunan. Bagaimana pengetahuan lokal dan tradisi bekerja mengelola, mendayagunakan, merawat sumber daya alam secara bermartabat, menjadi tantangan utama warga nagari Tikalak di hari-hari berikutnya.

Albert Rahman Putra
Solok, 5 Desember 2025


[1] Nagari adalah wilayah setingkat desa di Sumatera Barat

[2] Jorong adalah wilayah setingkat dusun/kampung di Sumatera Barat. Secara struktur, jorong berada satu tingkat di bawah nagari.

[3] Malacik adalah aktivitas membuang isi perut ikan dengan cara dipencet atau ditekan (Minang)

[4] Bagan adalah atau jaring angkat merupakan sejenis alat tangkap ikan berupa bangunan terapung dengan jala untuk memperangkap ikan. Alat ini menggunakan lampu sebagai penarik ikan untuk berkumpul di instalasi kubus (biasanya dari bambu yang diapungkan dengan drum atau benen). Jaring yg dibentang seacra vertikal dan diangkat ketika ikan berkumpul.

[5] Pecah perut (Minang)

[6] Handphone atau telepon genggam.

[7] Toke atau tauke merupakan serapan dari Bahasa Hokian yang artinya pedagang atau pemilik usaha (n Hokkien)

[8] Maledak=meledak (v.Minangkabau)

[9] Pasar Ombilin terletak Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

[10] Temu Kenali merupakan bagian dari Progam Daya Desa di bawah Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

[11] Alek nagari dalam Bahasa Minang merupakan sebentuk festival desa atau pesta kampung.

[12] Barus, S. R. (2011). Aspek Bioekologi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker.) di Perairan Danau Toba, Sumatra Utara. Tesis, Universitas Sumatra Utara, Program Magister Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Medan.

[13] Putra, Albert Rahman (2018). Sore Kelabu di Selatan Singkarak, Forum Lenteng, Jakarta.

[14] Janang adalah sebutan untuk orang yg menghidang makanan (n Minangkabau).