Lokakarya Daring Pengantar Seni Rupa




Lokakarya ini merupakan bagian dari program pembelajaran awal dalam rangkaian MTN Seni Budaya bidang Seni Rupa. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring dan terbuka bagi peserta dari berbagai wilayah Indonesia. Program ini dirancang untuk memberikan pengenalan mengenai praktik seni rupa kontemporer, termasuk proses kreatif, ragam pendekatan artistik, serta gambaran mengenai ekosistem seni rupa yang lebih luas.
Lokakarya ini terdiri dari 12 sesi kelas, yang akan difasilitasi oleh praktisi seni rupa yang memiliki pengalaman dalam berbagai bidang praktik, seperti seniman, kurator, pengelola ruang seni, maupun pelaku ekosistem seni lainnya. Melalui sesi presentasi, diskusi, dan refleksi bersama, peserta diharapkan dapat memperoleh perspektif dasar mengenai praktik berkesenian sekaligus memahami berbagai kemungkinan jalur perkembangan dalam bidang seni rupa.
Komunitas Gubuak Kopi sebagai kelompok belajar seni dan media, mendukung upaya-upaya distribusi pengetahuan dan peningkat kapasitas anak muda di titik berangkat yang berbeda-beda. Rangkaian kelas ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan dialog mengenai perkembangan wacana seni kontemporer hari ini di antar lokal.
Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya adalah program prioritas nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan. Program ini bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, serta menghubungkan talenta dengan berbagai peluang pengembangan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Tahap Pembibitan MTN Seni Budaya Bidang Seni Rupa yang diarahkan untuk mendorong regenerasi seniman secara berkelanjutan, dengan membangun inisiatif publik, sekaligus menjaring talenta baru di berbagai daerah. Fokus utamanya adalah membangun fondasi bagi calon seniman masa depan untuk melangkah ke tahap kekaryaan berikutnya.
.
_________
Lokakarya ini terbuka untuk semua kalangan, baik itu guru, mahasiswa, pegiat komunitas, seniman muda, dan semua yang tertarik, dengan batas usia minimal 18 tahun. Khususnya yang berdomisili di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan lainnya)
Informasi Kelas dan Jadwal




Rabu, 6 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Agung Hujatnikajennong memegang gelar doktor dari Fakultas Seni Rupa dan Desain pada Institut Teknologi Bandung. Dari tahun 2001 hingga 2012, Hujatnika bekerja sebagai kurator kepala di Selasar Sunaryo Art Space. Hujatnika telah menangani kurasi banyak pameran besar pada tingkat nasional dan internasional, termasuk Paviliun Indonesia pada 57th Venice Biennale, Venesia (2017); Not a Dead End. Indonesia Encounters the Arab Region, Jogja Biennale, Yogyakarta (2013); dan Exquisite Corpse, Paviliun Bandung pada 9th Shanghai Biennale, Shanghai (2012).
Pada kesempatan ini, Agung Hujatnika akan mengawali lokakarya daring ini dengan pengenalan dasar kekuratoran melalui sejarah istilah, peran, dan posisi kurator dalam ekosistem seni rupa, dengan penekanan bahwa praktik kuratorial tidak pernah netral.
Kamis, 7 Mei 2026
16.00-18.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
- Anzieb menyelesaikan sarjana seni rupa di ISI Yogyakarta dan Magister Kajian Budaya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Aktif bekerja sebagai Kurator pameran sejak tahun 2001 sampai sekarang, menulis esai di sejumlah media massa, menyunting dan menerbitkan buku, serta riset. Salah satu pendiri Institut Sejarah Seni Indonesia (ISSI), sebuah Lembaga yang menyebarkan pengetahuan sejarah seni khususnya sejarah seni rupa Indonesia melalui kelas penulisan sejarah, symposium, seminar, konservasi maupun pameran-pameran yang menyajikan arsip/koleksi seni rupa modern Indonesia.
Pada kesempatan ini Anzieb mengajak kita berdialog mengenai pentingnya riset sebagai fondasi dalam agenda pameran, serta bagaimana konsep kuratorial dibangun melalui pertanyaan-pertanyaan, tidak sebatas tema.
Kamis, 7 Mei 2026t
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Rifky ‘Goro’ Effendy lahir di Jakarta, Indonesia, lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) Indonesia. Sejak 1997, Rifky Effendy telah menjadi curator dan ko-kurator berbagai pameran di Indonesia maupun luar negri. Antara tahun 2000 hingga 2006 ia menerima hibah untuk magang dan observasi seni kontemporer di beberapa negara. Pada tahun 2009 mendirikan dan menjadi kurator Jakarta Contemporary Ceramics Biennale. Tahun 2016 hingga sekarang mendirikan dan menjalankan Orbital Dago Gallery, Bandung. Tahun 2018 ikut mendirikan BDGConnex dan Bandung Art Month. Turut menjadi kurator Art Bali 2018 dan 2019 di Gedung ABBC; Nusa Dua dan menjadi ko-kurator; Sakti - Paviliun Nasional Indonesia, Biennale Venesia ke-55, 2013.
Pada kelas daring ini Rifki Effendi mengajak kita melihat bagaimana praktik penulisan kuratorial sebagai alat interpretasi sekaligus kekuasaan. Selain itu kita juga diajak untuk melihat pentingnya kesadaran terhadap audiens.




Rabu, 13 Mei 2026
16.00-18.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Farah Wardani adalah sejarawan seni dan kurator yang saat ini bertugas sebagai direktur Jakarta Biennale 2021, dan anggota komite seni rupa di Jakarta Arts Council. Sebelumnya, Farah bekerja sebagai direktur eksekutif Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Yogyakarta, di mana ia mengerjakan arsip digital IVAA, sebuah kerja pengarsipan digital seni kontemporer pertama di Indonesia. Farah pernah bekerja sebagai direktur artistik di Yogyakarta Biennale 2013 dan asisten direktur untuk Resource Center di Galeri Nasional Singapura pada 2015-2019. Ia juga merupakan konseptor Distrik Seni x Sarinah di Jakarta.
Pada sesi ini Farah Wardani akan mengajak para peserta untuk membongkar pemahaman kritik sebagai sekadar penilaian “baik–buruk” dan memperkenalkannya sebagai praktik intelektual yang memproduksi wacana.
Rabu, 13 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Rizki Akhmad Zaelani (lahir di Bandung, 27 Desember 1965) adalah seorang kurator seni rupa Indonesia yang telah berkiprah sejak awal 1990-an. Ia menempuh pendidikan Seni Murni di FSRD ITB, melanjutkan studi pascasarjana di bidang kekuratoran dan manajemen seni, dan saat ini menjalani program doktoral dengan fokus riset penciptaan kekuratoran di institusi yang sama.
Sepanjang kariernya, Rizki aktif mengkurasi berbagai pameran penting, baik tunggal maupun berskala nasional dan internasional, termasuk keterlibatannya dalam Jakarta Biennale, Art Summit Indonesia, serta seri pameran MANIFESTO di Galeri Nasional Indonesia. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek institusional, seperti penataan koleksi seni di lembaga negara dan kedutaan.
Atas kontribusinya, ia menerima Penghargaan MURI di bidang kekuratoran (2011) serta Anugerah Budaya Kota Bandung (2023). Praktik kuratorialnya dikenal luas karena konsistensinya dalam mengembangkan wacana seni rupa Indonesia di tingkat nasional maupun global.
Pada kelas daring Bapak Rizki ini akan memperkenalkan bahwa kritik seni memiliki beragam pendekatan dengan asumsi dan konsekuensi pembacaan berbeda.
Kamis, 14 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
(l. 1973, Lintau, Sumatra) adalah salah satu seniman paling dinamis dan berpengaruh dalam kancah seni rupa kontemporer Indonesia saat ini. Seorang pelukis pur sang, Alfi mulai mendapat perhatian internasional pada akhir tahun 1990-an sebagai salah satu anggota pendiri kelompok seni berpengaruh Jendela, yang melalui fokusnya pada eksplorasi estetika dan material dalam ranah yang lebih formal dan personal, menghadirkan dinamika baru dalam dunia seni kontemporer Indonesia.
Alfi secara khusus dikenal melalui ikonografi personalnya yang kuat berupa tanda-tanda visual, yang merefleksikan pengalaman eksistensial dan spiritual baik pada tingkat individu maupun kolektif. Dalam menciptakan rangkaian lukisan komprehensif seperti Blackboard Paintings atau yang lebih baru, seri Melting Memories, ia merujuk pada berbagai sumber, mulai dari teks, objek empiris dari alam, hingga lukisan Renaisans dan ingatannya sendiri; menghasilkan karya yang sekaligus terasa misterius dan intim. Alfi tinggal dan berkarya di Yogyakarta, Indonesia, dan telah banyak berpameran di dalam negeri maupun internasiona
Sesi ini bertujuan memperkenalkan peserta pada pengertian dasar penciptaan seni rupa, peran seniman, serta relasi antara karya, konteks, dan penonton. Peserta akan diajak melihat seni sebagai proses yang hidup dan kontekstual, bukan sekadar obyek estetis.





Selasa, 19 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Pada kesempatan Riksa Afiaty akan berbagi mengenai pengalaman dan metodenya dalam menganalisis arsip dalam konteks produksi seni.
Rabu, 20 Mei 2026
16.00-18.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untu dapatkan link)
-
Aloysius Nindityo Adipurnomo lahir di Semarang – Jawa Tengah 1961. Tahun 1980 tinggal di Yogyakarta. Pendidikan Sekolah Tinggi Seni Rupa di STSRI “ASRI” – Seni Lukis Yogyakarta; “Rijks Akademie van Beeldende Kunsten” Amsterdam 1987. Bekerja sebagai seniman bebas medium. Nindityo perhatian pada budaya populer yang berkembang dari kerajinan lokal. Nindityo banyak menginisiasi proyek seni yang bersifat “partisipatory engagement” bersama dengan publik seni maupun non seni. Sekalipun terus bekerja dalam konvensi seni rupa akademik. Nindityo berpameran di forum nasional/internasional (kawasan - regional): Biennale Havana, SOONSBEEK International Sculpture Exhibition, dll. Karyanya dikoleksi museum Fukuoka, Queensland Art Gallery, Singapore Museum, dan MIIAM - Chiang May dan kolektor-kolektor individual di Asia.
Mengelola Rumah Seni Cemeti bersama Mella Jaarsma dari 1987 hingga 2017. Menjadi bagian dari Dewan Pembina Rumah Seni Cemeti. Menerima penghargaan “Long Life Achievment Award John D. Rockefeller 3rd” 2015. Salah satu pendiri dan anggota Dewan Pengawas Yayasan IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Menjabat Dewan Pembina Yayasan Bienale Yogyakarta hingga Biennale Ekuator ke-6.
Pada lokakarya ini Nindityo Adi Purnomo akan membahas relasi seni dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan kultural.
Rabu, 20 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Moelyono (1957) adalah seniman kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Sarjana lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta ini, sejak masa kuliah telah menunjukan kepeduliannya menghasilkan karya-karya seni yang memperlihatkan kepeduliannya pada golongan masyarakat marginal. Salah satu karya Moelyono pada saat mengikuti pendidikan tinggi di ISI yang berjudul "Kesenian Unit Desa (KUD)" tidak mendapatkan dukungan dari ISI untuk dipentaskan.
Moelyono percaya bahwa seni dapat menjadi cara untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Antara tahun 1987 hingga 1990, Moelyono merintis pameran keliling buah karya seni anak-anak nelayan dan petani Teluk Brumbun dan Nggerangan di Tulungagung, Surabaya, Yogyakarta, Salatiga, dan Surakarta.
Dalam mendukung aktivitas seninya, Moelyono mendirikan Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK) pada tahun 1993. Bersama YSRK, Moelyono melakukan kegiatan pendampingan sosial di pelbagai daerah seperti Pacitan, Surabaya, Lombok dan daerah lainnya. Atas dedikasi dan komitmen Moelyono dalam "Seni Rupa Penyadaran" pada tahun 1992, ia terpilih menjadi anggota Ashoka Fellowships Innovator for The Public dari Yayasan Ashoka Indonesia.
Selain sebagai seniman dan guru, Moelyono juga aktif menulis dalam berbagai media sebagai bagian dari upayanya dalam memopulerkan Seni Rupa Penyadaran. Kumpulan dari tulisan-tulisan Moelyono pada berbagai media selanjutnya diterbitkan dalam buku oleh Yayasan Bentang pada tahun 1997 dengan judul "Seni Rupa Penyadaran".
Pada kesempatan kali ini Moelyono akan mengajak kita untuk membaca identitas sebagai konstruksi historis dalam ketegangan tradisi dan modernitas.
Kamis, 21 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Praktik seni Melati Suryodarmo dikenal melalui karya-karya performance art berdurasi panjang yang menuntut ketahanan fisik, lahir dari penelitian berkelanjutan mengenai gerak tubuh serta relasinya dengan diri, ingatan, dan dunia di sekitarnya. Praktiknya yang multidisipliner mencakup instalasi, fotografi, film, dan performance, dengan eksplorasi tema-tema tentang rumah, spiritualitas, keluarga, dan sejarah personal. Dalam karyanya, ia sering merujuk pada kebudayaan Jawa serta mengaitkannya dengan gagasan sosial-politik, aktivisme, dan perspektif feminis.
Pada kesempatan ini Melati Suryodarmo akan berbagi pandangan dalam melihat globalisasi sebagai medan negosiasi yang sarat relasi kuasa.




Senin, 25 Mei 2026
16.00-18.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia pada tahun 1948, Jim Supangkat dikenal sebagai kurator independen dengan latar belakang seniman, kritikus, jurnalis, dan pengajar seni rupa. Dalam kariernya sebagai seniman, bersama sekelompok seniman muda Bandung dan Yogyakarta ia turut mendirikan Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia (GSRBI) pada tahun 1975 hingga 1979—gerakan yang sering kali dianggap menandai awal kemunculan praktik seni rupa kontemporer di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Salah satu karyanya yang paling kontroversial adalah Ken Dedes (1975) yang turut dipamerkan pada pameran GSRBI pada tahun 1976, kini menjadi koleksi Singapore Art Museum.
Pada tahun 1980-an Jim Supangkat bekerja sebagai jurnalis di Majalah Tempo dan
menjadi staf pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Seiring berkurangnya keterlibatan sebagai seniman dalam dunia seni, ia mulai menekuni ranah teori.
Minatnya pada perkembangan teori-teori seni rupa perlahan membawanya meninggalkan profesi jurnalis dan beralih menjajaki karir sebagai kurator
independen—bidang pekerjaan yang saat itu belum cukup dikenal di Indonesia. Melalui pendekatan ini pula ia dikenal sebagai “Bapak Kurator Indonesia” ketika
memperkenalkan spektrum wacana tentang peran kurator yang menyajikan berbagai
gagasan mengenai seni rupa, baik Indonesia maupun dunia, pada akhir 1980-an hingga 1990-an.
Pada Lokakarya Daring ini, Jim Supangkat akan berbagi pembacaanya terkait seni kontemporer Indonesia dalam jejaring sejarah dan wacana global.
Senin, 25 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
FX Harsono (lahir 1948) adalah sosok penting dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia. Bahasa artistiknya terus berkembang menanggapi konteks sosial dan budaya yang baru. FX Harsono belajar seni lukis di STSRI “ASRI”, Yogyakarta (Indonesia) pada tahun 1969–1974 dan di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) pada tahun 1987–1991.
Ia menerima penghargaan Prince Claus Award 2014 dari Prince Claus Fund, Belanda, serta Joseph Balestier Award for the Freedom of Art 2015 dari Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Art Stage Singapore.
Dalam kelas daring ini FX Harsono akan berbagi pengalamannya dan membahas perubahan lanskap seni setelah reformasi.
Selasa, 26 Mei 2026
19.00-21.00 WIB
Durasi: 120 Menit
Hanya Daring (daftar untuk dapatkan link)
-
ARAHMAIANI Lahir di Bandung tahun 1961. Seorang perupa, performer dan penulis/penyair yang dianggap sebagai pelopor seni performance (seni penampilan) di Asia Tenggara. Yang juga mengunakan berbagai media dalam metoda berkaryanya seperti lukisan, gambar, instalasi, video, puisi, tari dan musik. Dia adalah salah satu seniman di paviliun Nasional Indonesia di Venice Biennale ke 50 tahun 2003. Dan tahun ini juga akan ikut pameran di Venice Biennale lagi. Selain berbagai acara pameran penting di berbagai negara. Karyanya mengangkat isu-isu yang berhubungan dengan kekerasan, kritik modal, politik kontemporer, budaya, dan lingkungan hidup. Yang dikerjakan dan diekspresikan bersama komunitas-komunitas – selain sebagai ekspresi pribadi.
Pada kelas ini Arahmaini akan berbagi pembacaannya terkait sistem seni global dalam relasi kuasa historis.