Lokakarya dan Residensi Daur Subur 2025

Partisipan Lokakarya: Dika Badik (seniman), Sofni (Komunitas Badaceh/ Kelompok Wanita Tani), Deni Leo Nardo (Guru), Upiak DNR (Pokdarwis Tangaya), Rio Ritu Selah (Huma Inovasi), Elmiko (KBCCN Kab. Solok), Hendra Saputra (Galanggang Raya Farm), Batik Tarancak (Mimi), Angelique Maria Cuaca (penulis/Pelita Padang), dan Biki Wabih Amdik (seniman)

Narasumber Tamu: Buya Khairani, Fatris MF, M. Ilham Samudra (Jatiwangi Art Factory), Avi Chadijah (Memodapur), Gibran Tragari (Sendalu Permaculture)

Lokakarya: 9-15 Juni 2025

Partisipan Residensi: M. Ilham Samudra (Majalengka), Angeliqe Maria Cuaca (Padang), Avi Chadijah (Makassar), Makmur Djaya (Jakarta)

Residensi: 15 Juni – 15 Juli 2025

Proyek ini merupakan pengembangan dari Platform Daur Subur, sebuah studi mengenai kebudayaan yang berkembang di masyarakat pertanian Sumatera Barat melalui pendekatan seni-budaya. Platform ini diinisiasi oleh Komunitas Gubuak Kopi pada tahun 2017 dan terus berkembang hingga sekarang dan melahirkan 10 serial proyek seni Daur Subur dengan tema-tema yang berkesinambungan. Proyek ini  melibatkan sejumlah kolaborator dari beragam perwakilan komunitas dan warga inisiator, untuk membaca ulang kebudayaan pertanian, melakukan pendokumentasian, mengaktivasi ruang, serta reproduksi pengetahuan kebudayaan pertanian melalui produksi artistik. 

Kolaborator utama dari kegiatan adalah mereka yang memiliki ketertarikan dalam kerja-kerja kolaboratif, pengembangan seni kontemporer yang mengedepankan ide-ide “estika bertetangga”, sejalan dengan gagasa estetika relasional yang  dikemukakan oleh Nicolas Bourriaud, bahwa seni hendaklah membuka hubungan sosial baru yang mendorong kenyataan sosial baru, mendorong pembatalan distingsi antara seni dan seniman, antara karya seni dan bukan karya seni.

Praktik artisik Komunitas Gubuak Kopi, sering kali menempatkan posisi “seniman sebagai fasilitator” ataupun sebagai organisator. Dalam hal ini bersama para kolaborator berupaya mendorong bagaimana seni dapat bekerja merespon persoalan-persoalan di sekitar. Kegiatan ini mendorong para aktor atau warga inisiator untuk melebur pada entitas kolektif, menjadi bagian dari warga dan mengambil peran dalam pembangunan dengan metode seni-budaya, yang lebih speku;atif dan present — hadir di tengah-tengah masyarakat, menjadi lebih terjangkau, lokal, dan horizontal. Praktik ini tidak lagi menekankan produksi seni sebagai objek dan sifat representatif, melainkan subjektivitas kolektif dalam upaya-upaya memperbaiki ruang hidup. 

Lokakarya Daur Subur  diselenggarakan pada 9-15 Juni 2025. Lokakarya ini menghadirkan kurasi dialog kritis bersama para aktor kebudayaan lokal untuk melihat persoalan di sekitarnya, khususnya dalam konteks kebudayaan pertanian. Para partisipan juga didorong untuk memperkaya kemampuan artistik seperti produksi seni, menulis, dan penelitian sederhana melalui sejumlah kelas. Para partisipan berkolaborasi dengan para tamu Residensi Daur Subur 2025 pada 15 Juni – 15 Juli, melakukan pemetaan persoalan serta potensi di wilayahnya, secara kolaboratif, melibatkan tetangga atau warga lainnya, dan meresponnya secara artistik.  Catatan dan pemikiran para partisipan lokakarya dan residensi dipresentasikan dalam bentuk Pameran Presentasi Publik Daur Subur XI, dan menjadi wacana bersama untuk dikritisi melalui kegiatan Simposium Daur Subur dalam rangkaian Tenggara Festival 2025 pada 1-10 Agustus 2025.

Aktivitas Utama Lainnya