Catatan Simposium Daur Subur
Panel III: Keberagaman dan Kedaulatan Pangan

Narasumber:
Risya Ayudya
Sylvi Lestari
Moderator: Nisya Tri Yolanda

Sabtu, 09 Agustus 2025
RN Coffee Roastery

Simposium Daur Subur – Panel III berfokus pada pembahasan “Kedaulatan dan Keberagaman Pangan” bersama Risya Ayudya  dari Selarasa Jakarta, kekaryaan Risya berkisar pada pangan, lahan, perubahan iklim dan ekonomi sirkular pada rantai makanan. Ia gemar memasak berbagai jenis makanan dari wilayah yang sering ia kunjungi. Selanjutnya Silvi Lestari dari Huma Inovasi, sebuah ekosistem pertanian, ternak dan pangan di Solok, mengedepankan prinsip zero waste. Simposium ini dimoderatori oleh Nisya Tri Yolanda, seorang pustakawan dari Steva, sebuah toko buku yang cukup aktif dalam menyelenggarakan diskusi seputar sastra, buku dan isu sosial di Kota Padang.

Melihat keberagaman pangan di nusantara, tidak terlepas dari sebaran bahan pangan yang tumbuh di setiap daerahnya. Hal demikian juga yang membuat menu dan budaya terhadap makanan berbeda. Dengan itu kita juga dihadapkan pada kemandirian menentukan pangan kita sendiri, dan kesiapan pada ketersediaan.

Huma Inovasi setidaknya menuju arah kemandirian tersebut, di sana mereka berupaya menyedia bahan dari produksi rendang andalannya, Randang Hj. Fatimah. Mulai dari kelapa, cabai, rempah dan lainnya, berusaha mereka tanam dan produksi secara mandiri. Begitu juga dengan daging sapi, di Huma Inovasi sapi-sapi  diberi pakan yang bergam, agar nutrisi sapi terpenuhi. Tidak melulu rumput hijau, di sini, ampas kedelai, kulit buah coklat, jerami, dan berbagai jenis rumput digunakan untuk pakan berprotein. Pakan ini juga mereka produksi sendiri, beberapa diantaranya melalui proses fermentasi singkat. Prinsip zero waste juga membuat proses penyediaan pakan diolah menjadi pupuk yang kemudian dimanfaatkan lagi untuk sejumlah tanaman di Huma Inovasi.

Ketersediaan kelapa di Solok juga terbatas, hal ini disebabkan ekspor kelapa yang besar ke luar daerah, Uni Silvi mengatakan bahkan hari ini, penyedia bahan baku dengan stok yang cukup untuk rendang bukan lagi di Sumatera Barat. Inilah salah satu alasan Huma Inovasi berupaya mandiri dalam kesediaan bahan baku produknya.

Salarasa menjadikan keberagaman ini untuk mengenalnya dari masakan, lewat cara memasak dan penggunaan bahan makanan. Beberapa fokus risetnya dikenalkan Risya, diantaranya mencari makanan pengganti beras, beberapa daerah yang pernah mereka datangi seperti Papua, mengolah sagu, ubi dan jagung ke berbagai jenis masakan mereka. Kampung Moso yang berseberangan dengan Papua New Guinea, memiliki Sagu dengan ratusan hektar.

Pengetahuan dan obrolan di Simposium Panel ke-3 ini membawa kita pada isu-isu krisi pangan dunia, mengkritisi ketergantungan pada satu jenis pangan (seperti beras), mengupayakan sistem keberlanjutan pangan. Sesi ini juga mengajak kita untuk merefleksi ide diversifikasi dan pengembangan pangan kearifan lokal sebagai upaya untuk memperluas jenis pangan dengan memaksimalkan potensi sumber daya pangan lokal di sekitar kita. Tentunya dengan tetap sadar akan perkembangan nilai-nilai kearifan lokal, ekonomi, sosial, kesehatan dan politik.

Salarasa juga melihat ini dengan mengenali tantangan bertani di perkotaan, banyak cara sebetulnya sudah masyarakat kita coba dengan mensiasati lahan untuk berkebun, namun bagaimana tetap bisa menjaga tanaman tetap hidup dengan sehat, memenuhi nutrisinya dengan media tanam, suhu dan ketersediaan matahari.