Catatan diskusi Daursubur Akhir Bulan edisi Agustus, dengan tajuk Kisah dari Kebun Belakang Rumah bersama Wening Lastri (Pasar Papringan, Temanggung). Diskusi ini diselenggarakan pada 24 Agustus 2025 di Galanggang Raya Farm, Kota Solok.
Agustus ini kami senang sekali mendengar kedatangan teman kami Wening Lastri dari Temanggung, Jawa Tengah. Sebenarnya Wening hadir untuk sebuah kegiatan di Koto Gadang, Bukittinggi. Setelah urusannya di sana selesai, ia menyempatkan diri untuk datang lagi ke Solok. Sebenarnya, pada bulan Maret kemarin Wening juga sudah datang ke Solok, yang sengaja kami undang untuk mengisi salah satu materi dalam rangkaian FGD Daur Subur. Kedatangan Wening kali ini bertepatan dengan topik yang tengah kami siapkan untuk diskusi bulanan di Daursubur Akhir Bulan edisi Agustus ini, yakni terkait diversifikasi produk hasil pertanian rumahan warga ataupun perkebunan warga.
Wening adalah salah satu pegiat inisiatif Pasar Papringan, sebuah kegiatan pasar yang diselenggarakan rutin setiap bulannya –berdasarkan kalender Jawa. Pasar ini didampingi oleh Komunitas Spedagi dan dikelola secara komunal oleh warga Temanggung untuk memasarkan produksi kuliner lokal. Pasar Papringan sudah hadir sejak tahun 2016. Inisiatif ini bermula untuk merespon sebuah lahan yang penuh dengan sampah warga. Inisiator bersama warga membersihkan ruang tersebut dan mengaktivasinya sebagai sebuah pasar, yang terus berlangsung hingga sekarang.
Sebelum diskusi dimulai kami menantang Wening untuk mengisi program Dapur Kasih Sayang kami untuk menyajikan masakan sederhana dari Temenggung. Sedari pagi Wening ditemani Nanda sudah berkeliling di Pasar Raya Solok mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Wening menyajikan masakan Empis-empis Tahu. Masakan ini sangat cocok dengan lidah orang-orang Minangkabau, saya kira. Secara bentuk, pengolahan, dan rasa ia mirip dengan masakan Minang yang disebut Gulai Toco. Rasanya tidak jauh berbeda, hanya saja biasanya pada Gulai Toco ditambahkan irisan buncis dan rimbang.










Setelah masakan selesai kami langsung menuju lokasi diskusi. DAB kali ini kami selenggarakan di Galanggang Raya Farm, Kota Solok. Ruang ini pada dasarnya adalah kandang dan kebun yang dikelola oleh Hendra Saputra dan sejumlah warga kelompok taninya. Kebun ini berada di halaman belakang rumah Hendra dan Pak Amir, dan biasa mereka pakai untuk perjumpaan antar anggota kelompok taninya. Ruang ini juga cocok dengan topik yang kita usung “Kisah dari Halaman Belakang Rumah”.
Wening memulai diskusi dengan menceritakan sejarah Pasar Papringan. Mulai ia didirikan, vakum, dan berpindah tempat. Seperti yang disinggung di awal, berawal dari membersihkan ruang kumuh, menjadi ruang yang nyaman untuk menyajikan serta menyantap ragam kuliner warga. Pasar ini dikelola oleh warga dengan kurasi makanan yang lumayan ketat, seperti mengutamakan makanan yang diproduksi dari hasil pertanian warga sekitar, makanan khas sekitar, menggunakan wadah saji atau bungkus alami, dan makanan tidak boleh seragam.
Menurut Wening, diversifikasi produk ini sejalan dengan kurasi Pasar Papringan itu sendiri. Dalam tim pengelola pasar, biasanya akan mendata terlebih dahulu siapa-siapa yang akan terlibat bulan ini dan produk apa saya yang bisa mereka buat. Kemudian para pengelola meminta para peserta pasar untuk membuat produk yang berbeda-beda. Begitu pula harganya ditentukan bersama-sama. Topik terkait pasar ini sebelumnya juga pernah dibahas di Daursubur Akhir Bulan dengan judul Ekonomi Kasih Sayang bersama Karyssa Hennida Matindas. Karyssa sebelumnya bercerita tentang Apamart di Majalengka, pasar bulanan yang diinisiasi oleh Jatiwangi Art Factory. Terkait diversifikasi produk, selain proses kurasi, pasar ini juga menyiapkan dapur yang siap dibajak oleh para tamu. Metode ini saya kira juga menarik, untuk mendorong eksperimen menu dari bahan-bahan yang ada di sekitar.
Terkait metode di Pasar Papringan, Wening menambahkan, ada beberapa nilai-nilai atau prinsip penting dalam menjalankan Pasar Papringan. Pertama, ia menyebutnya “pantik kreatif”, dalam hal ini perlu adanya keunikan dan karakter yang kuat, yang membuat pasar ini spesial. Keunikan tersebut perlu sejalan dengan kepentingan dan kebutuhan warga, serta sangat mungkin untuk dijalankan. Termasuk di dalamnya kurasi makanan, desain ruang dan metode pembayaran yang menggunakan koin khusus.










Ke dua, material alam dan lokal. Proses ini penting, terutama bagaimana hasil pertanian warga, baik itu bahan makanan atau material seperti bambu, dapat terserap dan menjadi produk. Pasar Papringan juga berupaya memaksimalkan hasil pertanian warga lokal untuk bisa olah menjadi kuliner yang beragam. Ke tiga, partisipasi komunitas. Keterlibatan komunitas warga maupun komunitas lainnya yang memiliki komitmen yang sama menjadi strategi penting untuk mengamplifikasi dampak dan narasi pasar ini.
Ke empat, perubahan cara pandang. Dalam hal ini, penting bagi warga untuk terbuka pada beragam pandangan, khususnya dalam melihat ruang dan berbenah pada kebiasaan sehat, yang mungkin tidak biasa oleh orang banyak yang menginginkan hal-hal instan. Ke lima, Kolaboratif. Berbagi peran adalah kesadaran yang perlu diperkuat. Tidak ada peran yang lebih unggul, semuanya sama pentingnya. Kemudian, berkelanjutan. Berkaitan dengan poin-poin sebelumnya, konsistensi serta kesadaran akan keberlanjutan di masa mendatang menentukan sikap kita hari ini. Kurasi yang ketat, komitmen tanpa plastik, pemanfaatan bahan loka adalah bagian dari upaya itu.
Diskusi kami tutup dengan menikmati masakan yang sebelumnya dibuat oleh Wening, sembari melihat sapi-sapi ikut makan rumput2 yang telah disiapkan Hendra.