Catatan Simposium Daur Subur
Panel I: Merawat Nilai-nilai Kebudayaan Pertanian melalui Seni dan Budaya
Narasumber:
Jumaidil Firdaus
M. Ilham Samudra
Rani Jambak
Moderator: M. Biahlil Badri
Kamis, 7 Agustus 2025
di RN Coffee Roastery
Kamis, 7 Agustus 2025, Simposium Daur Subur – Panel 1 dimulai. Sore itu, terdapat 3 orang narasumber, yakni Jumaidil Firdaus, seorang seniman asal Solok, yang cenderung menjadikan tradisi dan kebudayaan di lingkungannya menjadi bahan garapan karyanya, terutama musik. Berikutnya M. Ilham Samudra, seorang seniman dari Jatiwangi, sebuah komunitas yang merangkul seni dan praktik budaya kontemporer sebagai bagian dari wacana kehidupan lokal di pedesaan. Kemudian Rani Jambak, komposer, produser, perancang instrumen dan vokalis keturunan Minangkabau, ia mendalami eksplorasi musik elektronik dan lanskap suara yang bersumber dari berbagai wilayah Indonesia. Simposium ini dimoderatori oleh M. Biahlil Badri dari Komunitas Gubuak Kopi.
Tema ini dirasa penting dibicarakan di momentum Daur Subur 2025 yang juga bertepatan dengan perhelatan Tenggara Festival. Tahun ini Tenggara Festival mengacu pada inisiatif dan gerakan yang muncul dari masyarakat yang hidup di lingkungan pertanian. Yang mana kebudayaan yang sedang berlangsung ini bisa jadi berubah oleh masyarakatnya yang hidup di hari ini, oleh situasi sosial, dan konteks lainnya yang menjadikan kebudayaan berkembang atau bergeser.
Namun terlepas dari perubahan-perubahan tersebut ada sesuatu yang mungkin membuatnya terus hidup, membuatnya dikenal dengan nilai-nilai. Kita bisa punya banyak cara untuk merawat nilai-nilai tersebut, dengan pendekatan seni dan budaya oleh anak mudanya. Jumaidil Firdaus lahir di Sirukam, Kabupaten Solok, adalah sebuah wilayah pertanian yang mempunyai tradisi Alek Kapalo Banda, sebuah tradisi mensyukuri hasil panen, dengan berdoa di kapalo banda atau sumber air untuk sawah dan ladang dalam wujud syukur. Jumaidil menjelaskan waktu kecil dia sering melihat dan ikut pada syukuran ini, namun hal tersebut sudah jarang sekali dilakukan hari ini.
Pada sebuah karya komposisi musiknya, Jumaidil membuat sebuah karya dengan judul Trilogi Alek Kapalo Banda. Sebuah upayanya merawat nilai-nilai kebudayaan tersebut dengan membawanya ke dalam karya musik. Dengan begitu setidaknya dia dibicarakan kembali dalam bentuk lain, sebagai pengingat dan sekaligus mengarsip pengetahuannya seputar Alek Kapalo Banda, sebuah syukuran panen.
Hal yang sedikit berbeda dilakukan Rani Jambak, ia merawat ingatan masa kecilnya yang dekat dengan kincia aia (Kincir air), dia punya imajinasi menjadikan alat tumbuk bertenaga air itu menjadi instrumen musiknya. Menurutnya menjadikan ini sebagai upayanya memperkenalkan teknologi pertanian Minangkabau ke publik yang lebih luas, bahwa ini adalah sebuah pengetahuan orang terdahulu yang perlu kita pelajari kembali, bagaimana petani bertumbuh dengan apa yang dimilikinya saat itu.
Tak hanya menciptakan instrumen baru yang terinspirasi dari teknologi pertanian, ia membawa instrumen ini sebagai identitasnya sebagai musisi. Menurutnya dengan identitas ini, instrumen bisa menjadi alat diplomasi kebudayaan dengan caranya sendiri.
M. Ilham menceritakan kebudayaan di Jatiwangi dengan cara mengadopsi cara kebudayaan dan tradisi itu bekerja. Bagaimana orang terdahulu kita menciptakan tradisi dan budaya hingga mewariskannya kepada kita di hari ini.
Jatiwangi adalah sebuah daerah dengan penghasil genteng terbesar di Indonesia, menjadikan Jatiwangi art Factory kembali mengenal tanah sebagai kebudayaan yang hidup di daerahnya. Tidak jarang mereka membuat pola pola kepedulian dan penghormatan pada tanah itu sendiri dengan pendekatan seni dan budaya. Hingga mengembangkannya menjadi suatu karya yang bisa dinikmati di hari ini, membuatnya lebih dekat dengan warganya.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang timbul dari bagaimana merawat nilai-nilai kebudayaan pertanian melalui seni dan budaya. Salah satunya adalah kapan kita merasa di mesti dirawat, lalu dengan cara-cara seperti apakah dia bisa hidup kembali dengan konteks hari ini? namun sepertinya langkah awal untuk menjadikannya hidup kembali adalah dengan mengenalnya sekali lagi, dengan cara apa dia hidup di masanya. Kemudian bisakah kita meminjamnya, lalu melahirkannya kembali dengan tubuh-tubuh yang baru.















–
Simposium Daur Subur adalah ruang pertukaran wacana antar aktor kebudayaan dan inisiatif/gerakan pertanian, dalam merespon pentingnya kesadaran akan produksi pertanian dan pangan sehat yang berkelanjutan di Solok dan di Sumatera Barat secara umum. Ruang ini juga mengajak kita merefleksi ulang produksi narasi dan proses berbagi peran dalam mewujudkan imajinasi kolektif, Solok sebagai salah satu hub kebudayaan pertanian. Simposium Daur Subur tahun ini diselenggarakan sebagai bagian dari Tenggara Festival 2025, sebuah festival dua tahunan yang merayakan pertemuan gagasan praktik kolektif dan perluasan wacana seni yang diinisiasi oleh komunitas warga, dalam mendorong pembangunan kota yang lebih inklusif dan berpihak pada kepentingan warga. Festival ini memberi ruang pada inisiatif anak muda, kelompok warga, seni jalanan, dan praktik D.I.Y dalam mengartikulasi posisi kritisnya sebagai bagian dari warga, serta bertindak secara kolaboratif, demi ruang hidup yang lebih baik.