Merowah Gawah di Bangsal Menggawe 2024

Bangsal Menggawe adalah sebuah festival warga yang diinisiasi oleh Yayasan Pasirputih, Lombok Utara. Bangsal Menggawe 2024 dengan tajuk Montase Air dikuratori oleh Luthfan Nur-Rahman dan Muhammad Sibawahi. Kegiatan ini terdiri dari rangkaian residensi, musyawarah mingguan, dan presentasi dalam bentuk proyek yang beragam. Dalam hal ini keterlibatan Komunitas Gubuak Kopi direpresentasikan oleh Albert Rahman Putra dan Hafizan

20 Mei – 22 Juni 2024
Lombok Utara

Dalam konteks residensi pada Bangsal Menggawe 2024: Montase Air, Komunitas Gubuak Kopi mengusung project Daur Subur #10 untuk berkolaborasi dengan warga Desa Kerujuk, Kecamatan Pemenang Lombok Utara. Kerujuk adalah salah satu wilayah hutan yang cukup besar di Lombok Utara. Pohon-pohon besar dan keadaan geografis di hutan Kerujuk memproduksi banyak sumber mata air kecil yang menyatu menjadi bentangan sungai Kerujuk. Sungai ini mengalir ke banyak desa di wilayah Lombok Utara. Kerujuk pernah mengalami bencana seperti longsor dan krisis sumber daya alam akibat aktivitas penebangan yang masif di masa lalu. Sehingga muncul pemberlakuan peraturan ketat terhadap wilayah hutan yang menjadi sumber ekonomi dan kehidupan warga. Namun, bagi warga Kerujuk hutan tidak hanya sumber ekonomi dan air, tetapi juga sumber kehidupan. Lebih dari 5 tahun terkahir warga mengembangkan sejumlah insiatif untuk mengelola hutan dengan cara yang bijaksana, termasuk menyusun sejumlah “awig-awig” (kesepakatan adat) untuk menjaga kelestarian hutan.

Proyek ini menjadi bagian dari memperkuat dan melengkapi inisiatif tersebut melalui kesadaran kebudayaan dan melihat hutan tidaknya hanya soal manusia, tetap juga non-human, termasuk, tanaman, hewan, gagasan, dan wujud tak tampak . Selama berproses, Komunitas Gubuak Kopi mengunjungi sejumlah kepentingan yang bergantung pada ekosistem hutan, serta mengumpulkan inisiatif dan ide-ide pelestarian dari perspektif warga. Pemangku kepentingan tersebut antara lain kepentingan terhadap hutan, seperti Kelompok Tani Hutan, Kepala Dusun, Ketua Remaja, Kelompok Ekowisata, dan tokoh lainnya untuk merealisasikan musyawarah “awig-awig” baru sebagai kesepakatan bersama menjaga hutan dan kebudayaan hutan sebagai payung bagi human dan non-human.

Selain itu, proyek ini juga mengaktivasi tradisi waran (dongeng/cerita rakyat) sebagai upaya internalisasi nilai-nilai pewaris kebudayaan hutan yang bermartabat. Aktivasi waran ini melibatkan Ibu Sa’adah seorang pewaris tradisi waran di Kerujuk, untuk berdialog bersama sekelompok anak muda lokal dalam menyusun kisah-kisah warga mengenai mata air dan kehidupan tak tampak. Rangkaian aktivasi ini dibingkai dalam kegiatan yang disebut Merowah Gawah (selamatan atas hutan).

Merowah Gawah ini dirancang bersama-sama pemangku kepentingan hutan dan desa Kerujuk, menjadi agenda tahunan (baik dalam bentuk yang sama atau dikembangkan kembali oleh warga), sebagai moment meninjau kembali kepentingan dan inisiatif warga dalam menjaga hutan sebagai ekosistem utama dari daur kehidupan di Kerujuk. Selain itu, kegiatan ini juga berupaya membangun inisiatif produksi dan regenerasi kegiatan budaya (muatan lokal), seperti dongeng, yang berangkat dari potensi dan persoalan kebudayaan lokal, yang melibatkan anak muda, pewaran yang juga pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

______


Aktivitas Utama Lainnya