Juni 2025 ini kita kedatangan Karyssa Hennida Matindas atau yang biasa kita sapa Karyssa. Ia adalah seorang musisi dari grup musik Lair dan aktif berkegiatan di kolektif Jatiwangi Art Factory (JAF), Majalengka. Selama kurang lebih dua minggu  Karyssa di Solok, ia ikut terlibat mengamati proses proyek Daur Subur XI yang terdiri dari rangkaian kegiatan seperti lokakarya dan residensi. Sebelumnya, sejak awal Juni lalu Komunitas Gubuak Kopi menggelar kegiatan Lokakarya Daur Subur XI selama 7 hari dan disusul dengan kegiatan residensi yang menghadirkan sejumlah seniman tamu. 

Para partisipan lokakarya ini, kami menyebutnya kelompok warga inisiator. Mereka adalah warga-warga berdaya yang mengelola kelompoknya sendiri ataupun bekerja secara individu. Latar belakang mereka beragam, mulai dari petani, pembatik, pegiat kuliner, guru, penulis, dan lainnya. Dalam proses itu, gagasan untuk menciptakan metode ekonomi kolektif sering kali muncul, baik itu dalam diskusi serius maupun obrolan sembari ngopi. Topik itu juga direspon oleh Karyssa, yang bercermin dari konteks aktivasi yang dilakukan oleh teman-teman di Majalengka. Cerita itu menarik perhatian teman-teman di Daursubur Akhir Bulan dan kami rasa penting untuk diuraikan lebih jauh. Langsung saja kami minta Karyssa untuk menjadi pemantik diskusi itu di diskusi akhir bulan ini.

Diskusi kali ini kami selenggarakan pada Jumat, 27 Juni, di Parak Batuang milik Uni Patrisia Juwita, atau yang biasa kami sapa Uni Pat di KTK, Solok. Uni Pat sering bercerita ingin mengaktivasi kebun bambu di sebelah rumahnya ini untuk dijadikan tempat berkumpul teman-teman pegiat ekonomi kreatif. Lahan itu sebenarnya secara fisik sudah dikelola bersama suaminya. Ia membuat beberapa pondok dan taman sederhana. Beberapa kali kami sempat membuat kegiatan juga di lokasi ini. Tapi keinginannya menjadikan pasar masih belum direalisasikan. Barangkali karena memang juga masih sibuk bekerja, atau sembari menunggu suaminya pensiun akhir tahun ini. Kami kira baik itu untuk menyelenggarakan diskusi dengan topik ini di tempat Uni Pat, barangkali bisa menjadi langkah awal atau sekedar memperkaya gagasannya sembari mengamati lokasi ini bersama-sama. Diskusi ini kami bingkai dengan tajuk Metode Ekonomi Berbasis Kasih Sayang.

Kami semua duduk melingkar di sebuah pondok Parak Batuang, sembari menikmati beragam hidangan makan ringan. Sembari menikmati makanan, teman-teman yang lain menyiapkan peralatan diskusi. Pada pertemuan ini turut hadir para rekan dari beragam latar belakang pula tentunya. Selain berdiskusi memperkaya bagasi ilmu, makan-makan dan bersilaturahmi, mendengar kabar kawan-kawan yang lain adalah tujuan utama dari Daursubur Akhir Bulan. Begitupula bertemu teman-teman baru. Saling berbagi imajinasi tentang Solok yang selalu terbuka dengan tawaran-tawaran pelakunya. Saling berbagi artikulasi tentang identitas kolektif yang kita percayai saat ini.

Semua sudah berkumpul. Karyssa melaluinya dengan bercerita tentang sebuah platform yang diinisiasi oleh JAF, yakni Apamart. Ia adalah sebuah ‘pasar kejutan’ yang hadir sebulan sekali yang melibatkan para pelaku UMKM di Majalengka untuk terlibat mengisi stan dan berjualan. Secara gagasan, Apamart ini muncul sebagai laboratorium, menguji coba pasar untuk produk jaringan teman-teman di Majalengka. Produknya bisa bermacam-macam seperti produk kuliner, mainan, merchandise, dan lainnya.

Terkait dengan Sebelumnya, Karyssa bercerita soal teman-teman di Jatiwangi Art Factory dan komunitas lainnya di Majalengka, bersepakat mengusung “tanah” sebagai benang merah identitas kolektif wilayah itu. Mengingat memang kecamatan Jatiwangi dikenal sebagai wilayah produksi genteng tanah liat yang masif. Untuk memperkuat gaung “tanah” sebagai identitas kolektif, maka segala kemungkinan gagasan dan praktik terkait tanah diupayakan bersama-sama. Beragam praktik baru muncul, seperti praktik/adab memuliakan tanah, kue tanah, pajangan, rempah, produk-produk furniture, alat musik, karakter arsitektur, bahkan soal kebijakan. Nah, Apamart menjadi salah satu laboratorium untuk mengarusutamakan produk-produk yang berbasis kebudayaan tanah itu.  

Tapi Apamart juga tidak terbatas pada produk-produk yang berkaitan langsung dengan tanah secara bahan. Sejumlah proyek warga lainnya juga didorong untuk berkembang dan menjadikan Apamart menjadi pasarnya. Sejumlah produk warga lainnya adalah rempah-rempah, kue, roti, dan ragam kuliner Majalengka lainnya, baik itu khas lokal maupun menu-menu baru. Ada juga yang berjualan buku, baju, dan lainnya. Pasar ini biasanya juga dimeriahkan oleh pertunjukan musik dan kadang diperkaya dengan kegiatan diskusi.

Setiap warga yang hadir menukarkan uang mereka dengan kepingan yang disebut “Mpleng”. Harga satu mpleng bisa berubah sesuai waktu dan tempat. Misalnya, ketika di Documenta #15, di Kassel, Jerman, 1 Mpleng harganya bisa 3 Euro, dan 3 Mpleng bisa 5 Euro. Tapi di Jatiwangi, 1 Mpleng harganya bisa sekitar 1000 – 10.000 Rupiah. Nilai “kurs” ditentukan bersama-sama berdasarkan barang-barang yang akan dijual.

Apamart juga pernah diselenggarakan dalam agenda seni kontemporer di Jerman, yakni Documenta #15. Pada kesempatan ini JAF menghadirkan sejumlah proyek/karyanya dalam rangkaian pameran dan konfrensi. Salah satu program publik yang mereka selenggarakan adalah Apamart. JAF mengangkat tema Food Diplomacy dalam seri Apamart kala itu, dan menghadirkan sejumlah produk lokal teman-teman dari Majalengka. Apamar menjadi ajang presentasi produk dan mencari kemungkinan kerjasama atau pemasaran produk-produk secara lebih luas. 

Proses ini menarik untuk direfleksikan dengan apa yang tengah diupayakan oleh teman-teman melalui platform Daursubur Akhir Bulan ini. Sejumlah komunitas yang terlibat di platform ini memiliki praktik yang beragam. Ada yang berkegiatan di bidang seni, kuliner, batik, pegawai pemerintahan, petani, peternak, teknisi jaringan internet, dan lainnya. Salah satu yang menyatukan kita belakangan adalah munculnya kesadaran untuk mengkonsumsi makanan sehat. Setiap bulan kami berkumpul saling berbagi cerita upaya masing-masing. Kami menyadari praktik pertanian di Solok saat ini terjebak dalam skema industri dan instan sebagai dampak dari kebijakan yang tidak berpihak pada keselamatan masa mendatang. Satu per-satu teman-teman petani yang terlibat di sini mulai mengupayakan pertanian sehat. Baik itu untuk skala konsumsi pribadi maupun untuk dijual. 

Sulit memang untuk menjadi 100% organik, butuh setidaknya kawasan (mata air dan lahan-lahan sekitar) apalagi jika itu tidak didukung secara kebijakan pemerintah, baik itu untuk produksi maupun pemasaran. Walaupun awal tahun lalu dalam FGD Daur Subur, teman-teman mengupayakan komunikasi itu dengan pemangku kebijakan, namun teman-teman sepertinya tidak ingin bergantung dengan itu. Satu per-satu mulai melepaskan ketergantungan pada pupuk subsidi dan memproduksi pupuk sendiri, ataupun pupuk organik teman-teman. Begitu juga teman-teman pegiat kuliner. Makanan yang sehat dan bahan-bahan yang sehat menjadi perhatian utama. Upaya lain juga dilakukan oleh teman-teman di berbagai bidang.

Apa yang diceritakan Karyssa terkait pasar Apamart sangat menarik. Semangat warga berdaya, narasi atau kesadaran kolektif terkait kebudayaan tanah, serta laboratorium pasar menjadi strategi yang bisa kita adopsi dan kembangkan dalam konteks kebudayaan kita di Solok. “Ekonomi Kasih Sayang” sebagai metode adalah upaya yang terus berkembang, memenangkan upaya-upaya baik tetangga dan komunitas di sekitar kita, dengan cara yang baik, menghormati pertemanan dan lingkungan di sekitar kita. Teman-teman para inisiator ini kembali percaya diri, untuk terus mengupayakan jalan kebudayaan ini. Meletakan pertanian sehat sebagai narasi bersama yang disusul dengan beragam produk yang kelak kita pasarkan bersama-sama.