Artikel ini merupakan poin-poin notulensi diskusi Daursubur Akhir Bulan dengan tajuk Filosofi Pertanian Minangkabau yang dipantik oleh Buya Khairani (budayawan dan tokoh adat), pada 25 Mei 2025 di Bukik Gompong Sejahtera, Solok.
Melihat falsafah pertanian di Minangkabau sebagai wacana pertanian masa depan. Kedekatan dan pengetahuan masyarakat Minangkabau dengan alamnya tergambar dari petatah petitihnya, seperti yang dirangkum dalam falsafah alam takambang jadi guru. Petuah-petuah itu secara tidak langsung menjelma dan menghasilkan aturan dalam adat maupun norma dalam keseharian masyarakat dan hari ini, ada juga yang menjadi mitos karena mungkin belum diartikulasikan dengan Bahasa yang tepat hari ini. Pada hamparan Minangkabau, kita dianugerahi beragam bentuk kontur yang diberkahi oleh berbagai tanaman bisa tumbuh. Oleh karena itu filosofi Minangkabau alam takambang jadi guru itu sangat relevan dengan lanskapnya.
Falsafah Ini juga terus diwariskan dan digaungkan sebagai bentuk sensitivitas terhadap lingkungan. Falsafah ini dapat dimaknai sebagai bentuk laku masyarakat yang memposisikan alam sebagai pusat pengetahuan, pemaknaan siklus hidup dan semua yang ada di alam adalah sebuah petunjuk. Laku yang dimaksud bisa kita lihat dari tata ruang perkampungan Minangkabau yang tergambar dalam pepatah berikut:
Nan lunak ditanam baniah
nan kareh dibuek ladang
nan data kaparumahan
nan bancah palapeh itiak
ganangan ka tabek ikan
batanam nan bapucuak
mamaliharo nan banyawa
sawah batumpak di nan data
ladang babidang di nan lereang,
banda baliku turun bukik.
Artinya tanah yang lunak dijadikan sawah, tanah yang keras dijadikan ladang, tanah yang basah untuk melepaskan itik/bebek, genangan untuk memelihara ikan, dan kerja kita sebagai manusia adalah menanam dan memelihara yang bernyawa hingga tercipta hamparan sawah di dataran dan ladang yang berbidang di lereng perbukitan dengan sungai berliku menuruni bukit.
Semua orang akan kembali kepada pertanian pada akhirnya, karna pertanian adalah menanam, merawat, memanen, menikmati dan baragiah atau berbagi itulah prinsip dari pertanian.
Dilihat dari kepercayaan ataupun agama, baik agama langit ataupun bumi, mereka memuliakan pertanian begitupun kepercayaan yang berlangsung di tanah Minangkabau sampai pada Islam hari ini.
Membicarakan pertanian Minangkabau tidak hanya soal menanam dan memanen. Pertanian di Minangkabau juga mengatur aktivitas pasca-panen atau manajemen hasil pertanian terutama padi. Manajemen Ini tercermin dari praktik rangkiang (lumbung) di Minangkabau yang cukup kompleks. Gagasan rangkiang memandu kita dalam membagi hasil panen untuk menghadang dan mempersiapkan kemungkinan terburuk dalam kelangsungan masa depan anak kemenakan. Hasil panen akan dibagi kedalam empat lumbung atau rangkiang dengan fungsi yang berbeda setiap rangkiang.
- Pertama ada Rangkiang Si Bayau-bayau Rangkiang ini berfungsi sebagai tempat menyimpan padi yang akan digunakan untuk konsumsi sehari-hari.
- kedua Rangkiang Si Tangguang Lapa, Rangkiang ini berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan padi yang akan digunakan pada saat musim paceklik atau kekurangan pangan.
- Ketiga Rangkiang Si Tinjau Lauik: Rangkiang jenis ini digunakan untuk menyimpan padi yang nantinya akan dijual. Hasil penjualan dari padi ini digunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga yang tidak dapat dibuat sendiri.
- Keempat Rangkiang Kaciak: Rangkiang ini memiliki fungsi khusus, yaitu untuk menyimpan padi yang akan digunakan sebagai benih pada musim tanam berikutnya. Selain itu, padi di rangkiang kaciak juga digunakan untuk membiayai proses pertanian pada musim tanam berikutnya.
- Pengetahuan orang Minangkabau tentang tumbuhan juga dapat dilihat dari sebuah ungkapan pengharapan sosok ideal kerabat dari keluarga ayah sejatinya ibarat rumah kedua, tempat mengadu dan berkeluh kesah yang diumpamakan dengan sebuah pohon enau atau aren bisa dimanfaatkan mulai dari akar sampai pucuknya.
Rancak bainduak bako ka batang anau
Pucuaknyo dapek ka di isok
Miangnyo dapek ka tangkiuk
Palahnyo dapek ka niro
Buahnyo dapek ka kolak
Batanyo dapek ka ruyuang
Akanyo dapek ka ubek
Isi batangnyo dapek ka makan
Bahasa Indonesia:
Sebaiknya berkerabat dengan batang enau
Pucuknya bisa jadi rokokMiangnya bisa jadi pemicu api
Air daunya bisa jadi minuman
Buahnya bisa jadi kolak
Batangnya bisa jadi saluran air
akarnya bisa jadi obat
Isi batangnya bisa jadi makanan (sagu)





















